Tampilkan postingan dengan label Serambi Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serambi Kopi. Tampilkan semua postingan

Di Masa Itu

Hari ini sehabis Magrib aku bertemu dengan guruku, guru disaat membinmbingku waktu di bangku Tsanawiyah. Cukup lama kita berbincang ditengah Alon-alon Kabupaten Blora, tapi ada bebrapa perbincangan yang cukup membuat fikiranku gusar sampi saat ini. Saat aku ditanya oleh guruku, “Pernah engkau merasa ingin kembali ke masa lalu untuk merubah suatu keadaan?” ia menatapku, bukan tatapan yang menginginkan sebuah jawaban segera, tapi tatapan yang menginginkan kejujuran.

Aku mengangguk, wajahku tertunduk. “Tentu, tentu aku pernah menginginkan tentang semua yang pernah aku lakukan, ini suatu kodrat yang tak satupun manusia tak merasakannya” umpatku dalam hati sambil mencabut rumput yang ada di sekelilingku.

Guruku tersenyum sambil menatapku. Ia terdiam cukup lama, seakan ia mendengar jelas umpatan yang aku katakan barusan dalam hati. “Tapi, sungguh ia mampu mendengar apa yang aku umpatkan barusan?” pertanyaan itu tak henti-hentinya menggaung dalam kepalaku.

Lalu ia menarik nafas bersiap untuk berbicara “Ini bukan tentang agama yang ingin ku sampaikan, bukan tentang bahwa kita harus menyesali kesalahan yang ada dalam masa lalu kita dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi dikemudian hari” ia tertahan, nafasnya sedikit tersengal, sudah lama guruku tak berbicara panjang lebar.

“Aku sudah bertemu banyak orang yang terlalu larut dalam kesedihan mengenai masa lalunya, ia terjerembab namun tak mampu bangkit, ia berusaha namun tak ada yang bisa memapahnya. Aku ingin memberi tahu engkau tentang masa lalu dari pengalamanku” Ia menghembuskan, lalu mengambil ancang-ancang lagi untuk berbicara.

“Pernah aku tertegun pada masa lalu, aku ingin kembali pada masa itu karena bagiku itu masa-masa yang sangat indah dan menyenangkan. Masa saat tubuhku ini masih kuat untuk berjalan jauh, saat aku masih bisa menatap istriku tercinta setiap pagi saat aku membuka mata, saat aku melihat anak-anakku tumbuh dewasa. Namun itu sudah menjadi masa lalu”. Ia berkaca-kaca, terlebih saat bercerita tentang istrinya yang meninggal 4 tahun yang lalu.

Ia menatap pohon beringin yang berdiri tak jauh dari ia duduk sekarang, ia menatap dengan seksama. Lalu ia menunjuk pohon itu “Engkau lihat pohon beringin itu, semakin hari pohon ini semakin tinggi, hingga ia tak mampu lagi tumbuh tinggi. Tapi ia penuh dengan pengalaman saat berusaha tumbuh, ia menjadi lebih kuat, makin hari dahannya makin lebat, batangnya makin kokoh, akarnya menghujam makin dalam. Ia lebih kuat”

“Belajarlah dari pohon beringin itu, ia tumbuh besar dan tak pernah berharap kembali ke masa lalu. Karena masa lalu adalah kondisi yang lemah, dan saat ini ia semakin menjadi lebih kuat. Beringin selalu belajar untuk memperkuat dirinya setiap hari” Ia menghela nafas, semakin cepat saja guruku ini bernafas.

“Ingat Ka, aku adalah gurumu yang mengagumi semua kemampuanmu, tapi, jika manusia ingin kembali pada masa yang sudah terlewati, ia belum sepenuhnya memahami bahwa masa itu tak lebih kuat dari masa ia sekarang berada. Yang perlu ia lakukan adalah mensyukuri ia masih diberikan kesempatan untuk menciptakan masa lalu sesuai keinginan masa depannya” Guruku menghembuskan nafas tanda ia menyudahi obrolan malam ini, lalu ku amati ia menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya, ada dua cincin di jari itu.

Aku terdiam, masih terdiam sambil mengamati guruku dan sesekali mencabut rumput sekelilngku dengan perasaan gusar.
Share:

Sejarah akan terulang kembali

Kata itu tak pernah punya makna yang berarti buat saya. Sejarah akan terulang, dengan pelaku yang berbeda, output-nya juga berbeda, so what? Njuk ngopo?...... kira-kira begitu pikir saya.
Sebelum masuk ke tema ‘sejarah’, saya sepertinya tidak tahan kalau tidak berkomentar tentang bingkai di mana ‘sejarah’ ini bergolak. Secara implisit dan eksplisit,bacaan ini banyak meletakkan titik persoalan dari kacamata bingkai Indonesia. Yaitu sebuah negara di Asia Tenggara, kenyang dijajah, merasa merdeka, dan merasa lahir tak lama setelah bom atom meledak di negeri salah satu penjajahnya.
Setelah merdeka. Melalui pendidikan dasar, menengah, sampai tinggi, di benak kita ter-bangun persepsi bahwa penjajahan selalu identik dengan penindasan.
Dan penindasan terkonotasi dengan perbuatan sewenang-wenang untuk memaksakan kehendak. Hmm...
Jadi, kalau memaksakan kehendak dengan alasan yang ‘mulia’ dan tidak terlihat sewenang-wenang, kata ‘memaksakan kehendak’ menjadi tidak terlalu ‘menjajah-menjajah’ amat,‘gitu?
Di sini terlihat perkembangan paradigma yang sangat menarik. Ada rumus baru untuk menjajah secara ‘halal’, menjajah yang bebas hujatan, bahkan menjajah dengan sebuah cara, sehingga yang dijajah tak merasa terjajah. Yaitu memaksakan kehendak dengan motif atau alasan yang (seolah-olah) tepat alias mulia. Cara kekerasan untuk menjajah sudah kuno dan terlalu kasar.

Sayangnya,  cara  pandang  kita  sendiri  belum  dirombak  untuk memahami fenomena baru ini. Padahal seharusnya tidak terlalu sulit untuk menilai sesuatu sebagai bentuk penjajahan atau bukan. Yaitu menilai kembali apa yang digemborkan sebagai ‘mulia’, yang menjadi dasar ‘pemaksaan terselubung’ tersebut. Menilai sendiri! Tidak hanya mengadopsi.
Beberapa buku yang pernah saya baca  memaksa  saya  membuka  catatan-catatan  lama  tentang matinya  industri  minyak  kelapa,  garam  dan  industri-industri  ‘asli’ Indonesia. Sangat tidak ingin saya menyimpulkan dengan gegabah dari hasil penggalian-penggalian tersebut, tetapi sering sekali kesimpulan-kesimpulan itu datang sendiri seperti curahan hujan di mendung yang kelam (maaf kalau lebay). Bagaimana kedaulatan yang saya percayai sejak saya bisa ikut upacara bendera dulu, ternyata tak lebih bisa dipercayai dari cerita kancil mencuri timun. Cerita anak-anak belaka.
Motif  saya  sederhana,  bukan  teori  konspirasi  atau  pelarian  anak bangsa  yang  frustrasi(walaupun  sesungguhnya  agak  frustrasi  juga). Saya hanya tidak mau dijajah lagi. Apa pun bentuknya: fisik, ideologi, ekonomi, atau entah nanti apa lagi. Dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi. Jangan-jangan, selera musik yang saya dengarkan pun hasil dari penjajahan secara halus. Lantas apa yang menjadikan diri kita adalah kita? Ini, jujur saja, meresahkan saya.
Bukan tentang pro dan kontra, tetapi dalam mencoba memandang sesuatu dari sudut yang lebih lebar, dan melihat pada lapisan yang lebih dalam.
Terutama tentang carut-marutnya perdebatan sikap kita terhadap rokok; maaf, terhadap kretek.
Dari pembahasan tentang kretek ini saja, saya merasa diberi peer  besar. Apakah  tugas  saya  sebagai  generasi  (yang  merasa)  muda, benar-benar mengisi kemerdekaan? Atau sebenarnya kita malah belum merdeka? Apakah perjuangan menuju kemerdekaan itu sendiri belum selesai? Karena definisi penjajahan pun dinamis dan tidak pada satu
sudut, cara, dan jarak pandang saja.
Pertanyaan ini jelas mengganggu saya.
Share:

Hakikat Pengorbanan

Kita tak selalu bisa mendefinisikan pengorbanan. Karena kita tak pernah melakukan perhitungan secara matematis pengorbanan apa yang sudah atau orang lain lakukan untuk kita, dalam kehidupan manusia tak ada yang bisa membantah kalkulasi definitif matematis. Tapi apakah ada matematika untuk berkorban?

Tak salah jika pengorbanan bukan perhitungan, karena memang seperti itu seharusnya. Tapi apakah ada orang yang hitung-berhitung dalam pengorbanan? Tentu akan selalu ada orang seperti itu terlebih saat keikhlasan tak menyertai perbuatannya atau saat ia kecewa akan hal yang sedang ia perjuangkan.

Perhitungan akan mengaburkan tuntutan yang kita inginkan, karena segala hal yang kita lakukan tak ada yang terukur secara pasti. Apakah kita bisa mengatakan bahwa belajar 10 jam semalam suntuk adalah pengorbanan yang pantas untuk kita beri nilai 10 dibandingkan dengan belajar 10 jam terbagi dalam 7 hari? Sekarang kita kabur akan makna pengorbanan tersebut.

Maka Tuhan menghadirkan rasa ikhlas dan syukur. Aku memang bukan pendakwah yang tahu seluk beluk agama, namun aku mencoba belajar untuk ikhlas dalam melakukan berbagai hal tanpa menyebut itu sebagai pengorbanan dan tanpa melakukan coretan-coretan perhitungan setelahnya. Aku berusaha menghadirkan keikhlasan meskipun itu tak mudah, dan bersyukur yang memang sangat sulit.

Hingga detik inipun, aku masih belajar syukur, dimana aku sadar ketika berbagai hal yang sudah ku lakukan perlu untuk mendapatkan apresiasi syukur tertinggi, karena Tuhan masih memberi aku kesempatan untuk belajar dan memperbaiki. Ikhlas dan syukur bagiku merupakan kata lain dari ketenangan dalam hidup.

Aku tak pernah bisa mengukur pengorbanan yang dilakukan oleh keluargaku, oleh Ibuku misalnya. Yang bisa ku lakukan adalah melakukan apa yang sudah aku jalani hingga saat ini sebaik mungkin, bukan semata untuk membalas pengorbanan yang sudah beliau lakukan, namun lebih menunjukkan penghargaan agar ia lebih mudah bersyukur tentang apa yang sudah ia lakukan untukku. Aku ingin menghargai apa yang sudah beliau lakukan dengan sebaik mungkin.

Hal paling penting dalam pengorbanan adalah berusaha untuk menghargai, jika sudah tak ada rasa sedikitpun untuk menghargai maka sudah tak ada yang berarti, juga dalam hal lain aku pun berusaha memahami bahwa setiap lelaki baik-baik tahu kapan ia harus mundur dan memutuskan untuk berhenti.
Share:

Mengeja Filsafat

Mahasiswa yang hendak mempelajari filsafat tidak akan dapat memahami filsafat tanpa mempelajari sejarah filsafat. Pemikiran filsafat pada dasarnya merupakan sejarah pemikiran para filsuf, kita hanya akan dapat memahami pemikiran sang filsuf itu jika kita mengetahui pemikiran-pemikiran filsuf sebelumnya.
Sejarah filsafat barat terbagi dalam empat periode, yakni periode yunani kuno, abad pertengahan, modern, dan kontemporer (abadke-20dan21).


Filsafat Yunani Kuno (600 SM-500 SM).
Filsafat Yunani dimulai sejak abad ke-6 SM. namun, sebelum lahirnya filsafat telah ada beberapa kondisi yang perlu kita ketahui, yaitu mitologi, kesusasteraan, pengaruh ilmu pengetahuan dan kehidupan politik.


Filsafat Abad Pertengahan (400 – 1500 M).
Ini adalah zaman dimana filsafat sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi ajaran agama (the philosophy as a hand maiden of theologi). Sejauh mana filsafat bias melayani teologi, bisa diterima. Namun, filsafat yang dianggap bertentangan  dengan ajaran agama dan gereja, ditolak. Banyak buku-buku filsafat yunani kuno ditemukan kembali di zaman ini, tetapi banyak yang diberangus, karena dinilai pemikiran kaum kafir, zaman  ini sering dinamakan Abad Kegelapan Filsafat.
Ciri – ciri filsafat abad pertengahan antara lain : banyak membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keyakinan (iman) dengan rasio, keberadaan dan kesatuan Tuhan, teologi dan metafisika ,dan persoalan-persoalan epistemologi (universal dan individual ).
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa, yaitu masa Patristik dan masa Skolastik (Skolastik Awal, Puncak, dan Akhir).


Masa patristik (para pemimpin gereja)
Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir yang menimbulkan banyak beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat yunani dan ada yang menerimanya.
Bagi mereka yang menolak, alasannya karena beranggapan bahwa mereka sudah mempunyai kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti filsafat yunani. Bagi mereka yang menerima beralasan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran (firmanTuhan), tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berpikir).


Masa Skolastik
Skolastik (school) berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Filsafat skolastik dapat berkembang dan tumbuh karena, Faktor Religius, keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius. Faktor ilmu pengetahuan, pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran.
Skolastik Awal (800-1200). Pemikiran filsafat Patristik mulai merosot.
Skolastik Puncak (1200-1300). Disebut sebagai masa berbunga, ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo.
Skolastik Akhir (1300-1450). Ditandai dengan rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan stagnasi (kemandekan).


Filsafat  Modern (1600-1900).
Filsafat modern berawal pada abad ke-16 Masehi, setelah terlebih dahulu dimulai oleh Gerakan Renaissance dan Humanisme di Eropa Barat (1300-an -1600). Gerakan ini merupakan gerakan atas kekuasaan gereja. Menurut gerakan ini, manusia pada prinsipnya merupakan pusat dari alam semesta, sehingga memiliki kebebasan untuk mencari kebenarannya sendiri. Pada  zaman ini  banyak filsuf berpegang teguh pada pendirian bahwa manusia pada hakikatnya bukan sebagai viator mundi (penziarah  dimuka  bumi), melainkan sebagai vaber mundi (pekerjaan atau pencipta dunianya). Manusia harus mencari sendiri kebenaran, bukan bersandar pada ajaran yang telah diberikan oleh gereja dan agama.
Pada masa ini dipandang sebagai sumber pengetahuan secara alamiah yang dipakai manusia yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Maka pada abad ini timbul dua aliran yang bertentangan yaitu Rasionalisme dan Empirisme.
Aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal atau rasio, hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal lah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan mutlak.  Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber  pengetahuan, baik pengalaman batiniah maupun lahiriyah.


Filsafat Kontemporer (1900-dewasa ini).
Filsafat kontemporer ditandai oleh variasi pemikiran filsafat yang sangat beragam dan kaya, mulai dari analisis bahasa, kebudayaan, kritik sosial, metodologi (fenomenologi, heremeutika, strukturalisme), filsafat hidup (eksistensi), filsafat ilmu, sampai filsafat tentang perempuan (feminisme).ciri lainnya ditandai dengan profesionalitas disiplin filsafat.


Share:

Indonesia Dalam Peradaban Perut

"Rasa lapar mulai menyiksaku. Aku lemah, aku muntah beberapa kali. Suatu perasaan amat pusing menyambarku; aku berjalan terus dan tak mau memerhatikannya, tetapi perasaan itu makin lama makin kuat,” tulis Knut Hamsun, sastrawan Norwegia, dalam novel Hunger (Sult/Lapar), yang melambungkan namanya. Ia meraih Nobel Sastra 1920.

Hunger dianggap kritikus sastra dunia menawarkan cara pandang, penyajian bahasa, serta model penulisan yang detail dan khas. Tokoh novel ini, sang Aku, berusaha hidup sekuat tenaga, hingga menggadaikan seluruh barang yang dipunyai. Bahkan, menggadaikan selimut milik teman demi membeli makanan. Tokoh Aku, merupakan penulis yang sedang berproses menggapai kematangan.
Knut Hamsun kecil hidup dengan perut lapar dan bekerja membantu pamannya. Ia tak boleh pulang karena harus bekerja keras. Demi mengunjungi keluarga, Knut memotong salah satu jari kakinya agar pamannya iba. Jejak kepedihan terekam utuh di setiap episode hidupnya.
Lapar yang diderita tak hanya dirasa dengan perut kosong dan haus. Knut merasa terbenam lumpur pekat kemiskinan. ”Aku sendiri merasa bagaikan suatu serangga kecil yang sedang sekarat, di dalam cengkeraman kebinasaan dalam dunia yang sudah sesat ini,” ungkapnya.

Kritik pada modernisme
Dibaca dalam konteks kini, kisah Knut Hamsun menampar manusia modern yang hidup dan ambisinya melulu mengejar kebutuhan biologis. Sekadar urusan perut. Satu naluri purba yang membesar dan mendominasi, membentuk semacam adab yang tak hanya menenggelamkan masyarakat pada hasrat dan nafsu badaniah saja, tetapi juga —dalam kasus di negeri ini —menghadirkan elite yang sibuk dengan pragmatismenya.
Elite seperti itu tak sempat memikirkan hal lain—yang bersifat visioner atau holistik—kecuali sekadar proyek, politikus meng-”obyek”-kan dana negara, pengusaha lupa tanggung jawab sosialnya, akademisi rebutan kuasa, atau agamawan hanya silat lidah. Rakyat kebanyakan? Hanya untuk hiruk pikuk kebutuhan seputar perut: mengonsumsi semua hasil kebudayaan yang hanya memuaskan hasrat-hasrat purbanya yang badaniah.

Perut sebagai energi
Tanpa proses produksi seimbang, ekonomi kapitalistik hanya akan menghadirkan masyarakat konsumer. Jean Baudrillard (2005) menyebutnya masyarakat kapitalis mutakhir. Theodor Adorno menyebut sebagai ”masyarakat komoditas” (commodity society). Bagi negeri ini, dua terma itu tampaknya kontradiktif. Di satu pihak benar, kita tenggelam dalam hidup yang difalsifikasi ke dalam komoditas. Di lain pihak, kita sama sekali belum mencapai yang disebut Baudrillard sebagai the late capitalism.
Mungkin inilah ironi adab mutakhir kita. Sebagai masyarakat atau bangsa, kita menerima adab itu sebagai akibat. Namun, kita tak pernah mengetahui atau mengalaminya sebagai sebab.
Tak mengherankan bila masyarakat juga elitenya, seperti tak mengerti yang sedang terjadi, yang mereka lakukan sendiri. Ia kehilangan orientasi.
Itu terjadi dalam seluruh tingkat dan dimensi kehidupan. Pada pendalaman spiritual, misalnya, manusia Indonesia kesulitan memahami dan ”mengalami” agama sebagai jalan meneguhkan eksistensinya secara utuh. Ia berhenti pada slogan dan jargon skriptural. Makna substansial dari agama tersingkir di sudut-sudut perpustakaan, terpencil, teralienasi.
Perut, mungkin hanya simbol. Tak hanya untuk manusia, tetapi kehidupan itu sendiri. Walau posisinya desisif sebagai penggerak hidup atau kebudayaan, ia bisa menjadi ancaman bahkan bencana, ketika kita membiarkannya menjadi makhluk liar. Menjadi monster yang siap melahap (hidup) kita sendiri.
Share:

No Big Deal

Kamu tahu bagaimana rasanya?
Berusaha ratusan kali tapi tak pernah dipercaya.
Diminta melakukan semua tapi dianggap angin lalu saja.
Apa karena kesalahan itu?
ya karena kedekatan dengan semua orang itu?

apa kamu pernah berfikir sekali saja?
Saat engkau bertanya maka kujelaskan detailnya
alasan-alasan akan perbuatan itu
dan yang kuterima hanyalah hening dari mulutmu
jadi buat apa aku berkata segala hal itu? Cuma untuk ego mu kah semua itu?

ya.. aku tau aku bajingan
Orang tengik banyak lagak tak tahu diri
yah aku paham hal itu
engkau tanya kenapa aku tak pernah berusaha lebih?
Dan aku tertawa didalam hati
tertawa krn engkau sendiri yang tak pernah percaya akan usaha itu
jadi aku harus bagaimana lagi?

aku tau pula aku orang bodoh
tak pandai menjelaskan semuanya.
Mungkin itu pula kenapa engkau selalu membisu tak berbicara
diam dengan semua yang ada

tak bisa memilih yah?
tak pernah serius yah?
Slalu menganggap semuanya sama yah?

So be it dear..
lelah sekarang aku berusaha untuk orang-orang sepertimu
lelah pula aku berusaha meyakinkanmu
kalau memang karena latar belakang itu aku tak berhak untuk kata-katamu tak apa
no big deal..
mungkin untuk sekali saja aku harus benar-benar menjadi orang "jahat"
seperti yang kau tuduhkan padaku
melalui sikapmu
melalui bisumu
mungkin itu yang kau mau..tak tahulah aku..

melelahkan..
sungguh-sungguh melelahkan untuk bertahan..
Share:

Believe Me

Setidaknya saat ini aku sudah yakin
Untuk mengutarakannya padamu
Tentang apa arti “rasa”
Yang mulai kugali kembali dengan penuh harap
Saat kau utarakan rasamu itu padaku

Jujur kukatakan
Dulu aku pernah merasakan sakit, hingga aku menjadi kelu
Tidakkah terlalu berlebihan
Bila aku memintamu datang dan membilaskannya untukku
Agar jantungku dapat berdegup kembali saat aku beranikan menggenggam tanganmu

Aku bukan seseorang yang sempurna
Namun aku ingin sempurna untukmu
Dan menjadi luar biasa karenamu

Kata-kata ini tidak mungkin dapat kau rasakan
Jika masih ada ragu dihatimu
Katakan ragumu, aku akan yakinkan itu
Jika masih ada tanya dibenakmu
Tanyakan padaku aku akan jujur menjawabnya
Dan terimalah apa adanya

Karena aku sudah memantapkan diri ini
Untuk memulai nuansa baru bersamamu
Menghadapi warna warni hidup ini
Berbijak dalam setiap langkah bersamamu

Lalu kucoba meraba dan bertanya dalam hati
Pantaskah aku ucapkan janji jika kau tak disisi?
Mampukah kau berjanji padaku, bahwa kita BAHAGIA bila kita bersatu?
Katakan padaku saat ini atau tidak sama sekali..
Karena aku akan menghilang dari jiwamu
Jika semua untaian hati ini tak berarti bagimu..
Share:

Butuh Waktu Seumur Hidup Untuk Memahami kata Cowok Brengsek


Gue awali dari yang paling mainstream atau yang paling sering dibahas orang-orang di sosmed. Kita semua pasti sudah hapal dengan contoh kalimat, “Kalau sudah gagal jadi ganteng, maka jadilah cowok yang lucu.” Atau, “Kalau sudah gagal jadi cowok mapan, jadilah cowok yang lucu.” Tapi buat gue, cowok lucu itu levelnya sudah di atas cowok ganteng dan mapan :D

Cowok dengan keuangan mapan dan dengan muka yang tampan, sudah jelas diinginkan setiap cewek dan sudah sangat jelas dapat datang dan pergi sesuka hati di kehidupan cewek. Bahkan, 6 dari 10 cewek sudah tahu kalau cowok tipe ini bisa datang dan pergi sesukanya, tapi 6 cewek ini ya juga tetep mau dipacari terlepas dari konsekuensinya. Cowok tampan dan mapan 99% tidak punya kesulitan untuk pedekate dan melakukan finishing. Tapi bagaimana cowok dengan muka pas-pasan namun lucu, kayak gue? ;)

Dengan kemampuan membuat tertawa, cewek-cewek bisa lupa kalau cowok yang buat dia ketawa ini nggak ganteng, belum mapan, atau pun nggak romantis. Kasian banget ya. :D Gue sendiri punya pengalaman menarik dari cerita temen gue yang punya pacar cuma karena bermodal lucu. gini cerita dari temen gue itu "Di akhir kencan, sewaktu pulang, bilang gini sambil menembem-nembemkan pipinya tepat di depan mata temen gue, "Kamu itu biasa aja Donk, tapi kok aku seneng banget ya di deket kamu, jadi pengin ngobrol terus. Hehe." Bahkan di kencan kedua, ceweknya yang bayarin semuanya, dari makan, sampai parkiran. :D Bahkan dia sempat mau bayarin uang SPP kuliah temen gue itu, namun dengan cepat temen gue tolak." Ini sudah dapat disebut kejadian luar biasa dan sangat anomali. Mungkin dari 100 cewek, hanya ada 0,25 cewek yang mau bayarin kencan. =D

Lalu, gue juga melihat bahwa menjadi cowok lucu adalah hal paling romantis yang dapat dilakukan secara sederhana oleh seorang cowok di hidup ini. Bahkan hampir effortless. Sangat menyenangkan ketika melihat cewek tersenyum, tertawa, sambil melintir-lintir rambutnya, atau menembem-nembemkan pipinya. Semua cowok lucu itu basic-nya romantis. Kalau dia ngelucu, itu juga tujuan bikin kamu senyum, proses kenapa kamu bisa senyum, itulah romantis :*
Brengsek abis..

Buat gue, cowok lucu dan cowok cool adalah api dan air. Ketika cowok lucu adalah simbol kehangatan, keceriaan, maka cowok cool adalah kebalikannya. Ya, simbol kemisteriusan dan penasaran. Sampai sekarang gue nggak bisa lupa adegan Rangga nyambit pensil dengan cool ke Cinta. Dian Sastro disambit pensil dan akhirnya jatuh cinta! Kalau gue yang melakukan hal cool tersebut, pasti ending-nya gue dikutuk jadi bohlam kandang. Redup-redup gimana gitu :D

Kalau cowok lucu identik dengan ketidak gantengan, maka cowok cool ini erat kaitannya dengan ketampanan. Jadi, kalau kamu sudah tidak masuk kualifikasi cowok ganteng, jangan sekali-sekali bersikap cool ke cewek. Bayangin kalau Budi Anduk ditanya cewek, “Budii, apa sih definisi cinta menurut kamu?” Lalu Budi menjawab, “Berak.”

Budi Anduk pasti udah dikutuk jadi gayung martabak.

Tapi kalau Nicholas Saputra yang jawab gitu, toh cewek-cewek tetep ngantre buat disambit pensil.
Gue pernah coba sekali menjadi cowok yang cool. Yang cara ngomongnya sangat tertata, sesuai EYD, pelan, suaranya berat, dan menusuk kalbu. Waktu itu temen cewek gue nanya, “Kita mau ke mana, Kaa?” Terus gue jawab dengan pelan, berwibawa, suara bindeng kayak orang flu gimana gitu,

“Sebal sekali dihujani pertanyaan ‘kita mau kemana’ olehmu. Barangkali kau tak tahu, setiap bertemu denganmu, aku sudah sampai pada tujuan :D”

Dia terdiam.

“Jawaban apa yang ingin kau dengar dari seseorang yang sudah sampai tujuan? Kau ingin aku pergi ke mana lagi ketika kau adalah tujuan akhirku?” Gue kembali menambahkan.

Brengsek abis Guee :D

Ngomong-ngomong soal baper atau dibawa perasaan, gue termasuk cowok yang suka baper untuk hal-hal yang mungkin orang lain tidak akan baperin di hidup ini. Salah satu hal yang palin gue baperin di hidup ini adalah, saat kelingking kaki gue kepentok kaki meja. Sakitnya bener-bener membuat air mata berlinangan. Sakitnya bener-bener melibatkan perasaan. Sakitnya bener-bener membuat gue merenungi makna di hidup ini.. Kenapa ada sang hitam bila putih diciptakan? Kenapa bisa merasa kehilangan sebelum sempat memiliki? Kenapa harus belajar dari pertemuan tentang bagaimana indahnya mengawali sebuah perpisahan? Dan kenapa kaki meja ingin sekali mentokin dirinya ke kelingking gue? Kenapaa.. Kenapaaaa :'(

Langit tetap tidak mendengar..

Mungkin apa yang gue rasakan ketika kelingking kaki gue kepentok meja, itu sama seperti hati yang berdebar-debar saat kita hendak menggenggam tangan satu sama lain, dan hancur berantakan setelah tangan si dia nolak. :'( Gue sering banget ngeliat cowok yang air matanya jatuh sesaat setelah tertolak oleh cewek yang di sayanginya. Persis seperti air mata gue yang jatuh sesaat setelah kaki meja mencium kelingking gue.

Ketika cewek bisa tersenyum, tertawa, bersedih, dan menangis di sekali kesempatan, sudah tentu si cowok ini brengsek sekali. Dan ketika membuat baper cowok yang sampai menitikkan air mata ketika tertolak,

Gila. . . .
Brengsek abis..

Gue ngerti perasaan orang yang main dota ketika darah lawannya tinggal sekali garuk, namun ketika mau digaruk atau di-ulti, lawannya tiba-tiba ngilang  dan dia nggak punya gem atau apapun yang bisa ngeliat hero yang ngilang. Gue paham, orang yang gagal nge-kill ini pasti merasa kehilangan. Ditinggal pas lagi di saat genting, ditinggal pas lagi semangat-semangatnya ngejar, duuuuuh.

Gue ngerti perasaan mahasiswa yang di saat lagi butuh bimbingan dari dosbing, lalu tiba-tiba dosennya ngilang. Gue ngerti perasaan mahasiswa yang mau ngejar revisi buat cepet disidang, tiba-tiba dosennya ngilang, katanya ada seminar di luar negeri. Gue juga ngerti perasaan mahasiswa yang butuh pendamping wisuda, namun di saat wisuda, pacarnya malah ngilang. Ternyata nemenin wisuda orang lain :D
Gue juga ngerti perasaan orang yang lagi deket-deketnya, yang lagi romantis-romantisnya di-chat, tiba-tiba besoknya dia ngilang tanpa kabar. Rasa kehilangannya persis kayak kehilangan flesdisk yang isinya kopian film korea, sadis . . .
Rasa kehilangan yang prematur. Sudah merasa kehilangan sebelum sempat memiliki adalah brengsek yang paripurna.

Kalau sudah berhasil jadi cowok lucu, cowok cool, atau cowok yang suka menggandeng tangan, cobalah jadi cowok yang suka ngilang. Sebab hidup ini adalah perjalanan dari kehilangan satu ke kehilangan lainnya. Sebab tiada tempat berteduh dari segala yang  pergi dan dari setiap yang hilang, Gilaaa. . . . Brengsek banget Gue.

“Perjuanganmu lebih mudah, kau hanya kehilangan aku. Perjuanganku lebih sulit, aku kehilangan dirimu, dan diriku yang telah kuberikan pada tubuhmu.”
Nggak ada obat,
Brengsek abis..


Dan ini yang terakhir menurut gue, ini adalah brengsek yang paling ultimate. Tingkat bapernya bahkan melebihi baper ketika kaget saat diklakson tronton. Brengsek yang sejati lahir dari sini :D

Sudah pernahkan kalian sampai di fase dua tubuh yang sudah satu, namun tetap tidak bisa disatukan oleh ikatan resmi? Rasanya itu seperti sudah disakiti karena kelingking kepentok meja, namun tidak bisa membalas menendang meja.

Sudah pernahkah kalian sampai pada fase ditanya oleh kekasih, “Kamu pindah Fakultas yaa..” Namun dalam hati kalian menjawab tidak bisa. Itu rasanya sama kayak ketika naik motor di jalan, terus tiba-tiba dari belakang diklakson sama tronton. Rasa kagetnya itu benar-benar melibatkan perasaan. Bahkan saking kagetnya, bukan mulut yang menjerit, namun hati. Mau membalas nglakson, bunyinya cuma “Teeet”. Sebuah bunyi yang terdengar cemen sekali di tengah belantara jalanan ibukota. Mau menjawab pertanyaan, “kamu pindah Fakultas yaa..:” dengan iya, tapi hati berkata lain. Orang tua juga berkata lain.
Berat sekali beban di hidup ini :|

Gue sudah cukup banyak melihat cewek-cewek yang hancur karena gagal bersatu dengan cowoknya akibat dipisah jarak yang sangat jauh dan tidak bisa diukur seberapa jauhnya. Ya, jarak tak kasat mata yang terbentang di antara kita, sebuah perbedaan.

Kalau kamu sudah berhasil jadi cowok yang lucu, cool, suka menggandeng tangan, dan ngilang-ngilangan, cobalah jadi cowok yang beda. Dan lihatlah air mata perempuan yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya, sebuah air mata yang dipenuhi oleh baper karena gagal bersatu.

Parah,
Brengsek abis Gue..

=======

Apakah kamu dapat menyimpulkan bahwa tulisan gue di atas bisa disebut panduan? Apakah mencerahkan?
Nggak, kan?
Benar sekali. Tidak ada satupun panduan untuk menjadi cowok brengsek. Sebab kita sudah terlahir sebagai cowok yang brengsek.
Brengsek by default.
Setiap hal yang cowok lakukan dan berakhir tidak sesuai dengan keinginan cewek, di sanalah kata brengsek lahir.

Hidup cowok brengsek!
Share:

Menunggu Dengan Melupakan Adalah Dekat, Sedekat Jantung Dengan Detaknya


Ya, satu kata kunci yang dipakai jutaan umat manusia ketika ingin bangkit dari kegagalannya. Termasuk dalam urusan cinta, melupakan digadang-gadang sebagai satu-satunya cara untuk bisa bangkit dari kekecewaan.

Tapi apakah nyatanya akan benar-benar melupakan?
Tidak.

Begini ceritanya, gue pernah baca di artikel kesehatan dan psikologi bahwa ingatan manusia dibagi menjadi dua bagian, short term memory (STM) dan long term memory (LTM). Short term memory menyimpan informasi-informasi yang baru saja diterima oleh otak dan jangka waktu diingatnya tidak panjang. Untuk memperpanjang jangka ingat suatu informasi di otak, kita perlu mengucapnya berulang kali, membacanya secara seksama, atau menulisnya kembali sebagai catatan. Hal-hal tersebut dinamakan rehearsal atau lebih sederhananya disebut, menghapal.

Ya, hal-hal sederhana di atas sudah sering kita lakukan sejak kecil, sejak bersekolah di tingkat yang paling dasar sekalipun, kita selalu diajari bagaimana caranya menghapal dan mengingat banyak hal. Informasi yang kita terus olah dengan kembali membacanya, kembali mengucapkannya, dan menulisnya sebagai catatan, dianggap oleh otak menjadi informasi yang penting dan akhirnya “naik kelas” menjadi long term memory. Itulah sebab kita tak akan lupa nama ibu, nama ayah, alamat tempat tinggal, tanggal jadian, tanggal gebetan putus dengan pacarnya, hari di mana nembak terus ditolak, dan masih banyak lagi.

Walau jatuh cinta tidak mampu diproses oleh otak, melainkan melalui reaksi kimia berupa hormon, toh pada akhirnya reaksi-reaksi kimia yang terus-menerus akan menjadi long term memory. Ya, akan disimpan sebagai ingatan jangka panjang. Itulah mengapa agama selalu mengingatkan kita kepada kebaikan, karena laut, awan, gunung, hujan, dan pelangi hanya akan mengingatkan kita kepada mantan.

Dari kecil selalu diajari mengingat, lantas begitu putus cinta malah berusaha melupakan? Aku pandai mengingat, kamu pandai membuat kenangan, lantas ketika aku tidak bisa melupakan, siapa yang harus disalahkan?

Saat ujian, kita selalu berusaha mengingat pelajaran yang telah dipelajari selama satu semester penuh, atau bahkan yang baru dipelajari malam harinya. Tapi kenapa saat ujian berlangsung kita tidak berniat untuk melupakan? Takut tidak bisa mengerjakan ujian? Bukannya putus cinta atau kecewa juga merupakan ujian? Kenapa kita bersikeras untuk melupakan? Apa karena kita hanya ingin lari dari ujian?

Atau mari kita tengok mereka-mereka yang mendekam di rumah sakit jiwa atau yang punya gangguan mental. Dari wajah bingung mereka, kita akan mampu tangkap bahwa mereka tengah berjuang keras untuk satu hal: mengingat. Ya, mereka berjuang untuk mengingat siapa yang mereka sayangi, siapa yang mereka benci, dan siapa sebenarnya diri mereka.  Suatu hal yang sekarang kita punya, yang nyatanya kau perjuangkan, untuk aku yang ingin kau lupakan.

Pada akhirnya, melupakan hanya menjadi kiasan. Tak ada yang benar-benar mampu melupakan seperti yang terjadi pada mereka yang kehilangan ingatan. Kejadian tak bisa melupakan sangat mudah ditemui pada perempuan. Seperti yang sudah gue tulis di atas, cinta merupakan proses kimia yang melibatkan hormon. Seperti hormon dopamine, serotonin, endorphin dan masih ada juga yang lain. Hormon-hormon itu yang membuat kita senang, sedih, kangen, galau, horny, dan sebagainya.

Dan yang paling fatal adalah hormon oksitosin. Hormon yang menyebabkan seorang ibu akan selalu terikat dengan anaknya, hormon yang dihasilkan seorang ibu dengan kadar yang sangat besar ketika melahirkan. Hormon yang juga dikeluarkan perempuan dengan kadar yang tak kalah besar ketika berhubungan seks, setelah melakukannya, perempuan akan merasa terikat oleh pasangannya. Dari sanalah asal-muasal kenapa perempuan, menurut gue, adalah makhluk yang tidak tercipta untuk melupakan. Naluri mereka adalah mengingat, mengenang, walau pada akhirnya air matanya yang jatuh dan menggenang.

Buat gue, melupakan sebagai satu-satunya cara berpindah atau move on bukanlah menjadi cara yang paling baik, karena tiada yang benar-benar mampu melupakan. Kita diberi otak untuk mengingat, tanpa diberi tahu cara untuk menghapusnya salah satu bagiannya saja.

Bersikeras kita saling melupakan, namun Tuhan tetap mempertemukan kita dalam ingatan.
Sekali lagi, melupakan adalah kias, hanyalah kata yang digunakan untuk memangkas kalimat-kalimat  panjang yang menghias proses berpindah. Soekarno pun telah jauh-jauh hari mengamini anggapan gue ini dengan kalimat mahsyurnya, “JAS MERAH, Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah.”



Sebab caramu memperlakukan kenangan, adalah caramu menghargai masa lalu.
Share:

Manusia Yang Sok Asik!!!!

‘Dari awal aku wes gak suka kamu jadi ketua, lebih baik kamu mundur dari ketua. Soale udah ada yang mau ganti posisimu, mundur secepatnya. Aku gak bakalan nyesel semisal musuhi awakmu!!’

Itu salah satu pesan singkat dari seseorang yang sekarang bener-bener musuhin gue, dia menganggap gue ini musuh bebuyutannya, nggak rela dia jika gue merasakan nyaman sedikitpun. Gue sih anaknya kalemb kalo cuma hal kayak gini mah, nggak terlalu ambil pusing.
Tapi gue heran aja sama tuh anak, perasaan dia kagak pernah ada setiap organisasi yang gue pimpin ada agenda, lucu semisal tiba-tiba tuh anak nyuruh gue untuk mundur dari ketua. Toh, kalo di itung-itung, nggak sedikit gue berkorban untuk organisasi ini, dibanding dengan tuuh anak. bukan maksud membandingkan, nyatanya memang kek gitu sih.

Musuh, satu kata yang berkonotasi negatif. Satu kata yang tak terelakkan dari kisi hidup manusia. Kerapkali ada, entah itu dimusuhi atau memusuhi sulit sekali membedakannya.
Karena orang yang dimusuhi merasa dimusuhi dan orang yang memusuhi pun merasa dimusuhi.
Islam, adalah agama yang rahmatan lil ‘alamiin. Selalu mengajarkan bagaimana cara bermuamalah (berinteraksi sosial) yang baik. Berkaitan dengan perselisihan maka Islam pun menuntun penganutnya untuk tidak saling bermusuh-musuhan, menghindari perselisihan dan saling memaafkan. Bahkan Rasulullah SAW pun tak lepas dari itu.
Namun, ada tuntunan dari beliau agar kita bersikap bijak menyikapi orang yang notebene memusuhi kita. Yaitu ketika Nabi berdakwah, banyak sekali yang menentang dakwah beliau. Salah satunya Abu Lahab dan istrinya. Tapi Rasulullah menghadapi orang-orang yang memusuhi dengan cara yang ahsan dan bijaksana. Bahkan seorang nenek buta yang begitu membenci Nabi pun setiap hari beliau beri makan, disuapi dengan penuh kasih sayang.
Tiga hari, adalah batas seorang muslim untuk tidak bertegur sapa saat bertikai. Melebihi itu,
jatuhnya dosa. Membahas tentang musuh, saya langsung teringat pada guru Hadits gue dulu sewaktu gue nyantri di Pati. Beliau bertanya, “Adakah di antara kalian di sini yang bisa menjawab, mengapa orang bisa bertengkar?”
Dalam satu kelas kala itu tak ada satu pun jawaban yang benar. Ada yang menjawab karena
marah, uang, pacar, emosi, dan lain-lain.
Guru Hadist gue pun membuka kunci jawaban. “Orang bisa bertengkar itu karena masing-masing diri merasa dirinya-lah yang paling benar.
Itu jawabannya.”
Jawaban guru Hadist gue itu benar juga. Kerapkali, orang-orang yang bertikai itu disebabkan karena merasa masing-masing diri sudah berada di jalur yang benar. Kalau saja salah satu mau mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu, maka sangatlah mungkin
pertikaian itu pun tidak akan terjadi.

Setan laknatullah, mengirim pasukan ke segenap penjuru dunia untuk menghancurkan
ukhuwah orang-orang beriman. Bermusuhan hanya akan meninggikan hati pelakunya, saling mencemooh, merendahkan, menghujat bahkan memfitnah satu sama lain.
Hati dan fisik bertolak belakang. Mengapa demikian? Orang yang saling memusuhi, tidak akan bisa menerima kebaikan apa saja dari orang yang dianggapnya sebagai musuh.
Karena hati yang tertolak.
Saat bertemu pun saling memunggungi satu sama lain. Inilah yang setan harapkan. Ada satu hal yang dilupakan oleh orang-orang yang saling bertikai, yakni, khamar itu haram, judi itu haram. Dan sebenarnya, bermusuhan pun haram dalam Islam. Namun, para pelaku kurang begitu mengindahkan hal ini. Sebab bermusuhan dianggap sah dan biasa-biasa saja bahkan dicap ‘lumrah‘.

Al Qur’an sebagai kitab panutan umat manusia, dengan gamblang melarang; agar tidak saling bertajassus atau mencari keburukan orang lain. Mengapa bermusuhan dilarang?, karena mereka yang bermusuhan seringkali melakukan hal ini. Mencari kekurangan lawan, mengejek, menghina, dsb. Apabila sang musuh melakukan kesalahan, melarat, nista dan kesusahan, maka itu dijadikan senjata untuk menyerang si musuh tersebut.
Astaghfirullah…
Sungguh, itu real perbuatan setan.
Hal semacam ini yang kurang dipahami mereka yang bertikai. Entah bertikai secara fisik
maupun non fisik. Kalau saja mau merenung sejenak.

Manfaat bermusuhan itu apa?
Apakah dengan memiliki musuh lantas itu sebuah prestice? Tidak sama sekali!
Sadarilah…
Bahwa bermusuhan adalah dosa yang tidak akan diampuni meskipun dengan istighfar (memohon ampun) kecuali dengan bertaubat dan berdamai. Bermusuhan hanya akan meninggikan hati dan menjerumuskan pada kesombongan serta dosa. Saling memaki, menghina, menghujat dan merendahkan. Sungguh akhlak yang tidak terpuji.
Tengoklah kembali uswattun hasanah kita Rasulullah SAW dalam berinteraksi. Sungguh, Nabi itu rendah hati, tinggi akhlaknya bukan tinggi hati. Untuk mereka yang saling bertikai; Berpikirlah sekali lagi manfaat bermusuhan itu apa? lalu bayangkan bagaimana jika musuhmu mati? Merasa menangkah? Nauzdubillah tsumma na’udzubillahi min dzalik.
Mencari musuh itu mudah, mencari orang yang mau mengajak kita ke surga itu yang sulit. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati-hati kita, dijauhkan dari permusuhan dan selalu dijaga agar terhindar dari tipu daya setan. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
Share:

Cukuplah

Aku yang Tiba-tiba Mendoakanmu
Bagiku, doa adalah bukti cinta yang paling murni dan sempurna
hanya itu yang bisa aku lakukan
sebagai bukti aku yang telah jatuh mencintaimu
Diam-diam aku mendoakanmu
menyelipkan namamu di sela segala permohonan
dalam sujud panjangku

Dengan malu-malu aku mengeja namamu
meminta kebahagiaan dan keselamatan untukmu
meski nyatanya aku tak benar-benar mengenalmu

Kini, aku tak lagi hanya menyebutmu di hadapan Tuhanku
tapi mulai mendoakanmu
dan mungkin akan terus mendoakanmu


Hanya satu hal yang tak mampu kuminta pada Tuhan; memilikimu
Aku takut Tuhan tertawa dan menganggapku bercanda
Lalu mengabaikan doa-doa baikku untukmu
Cukuplah aku tahu diri untuk tak pernah meminta satu hal itu
Share:

Melupakanmu Adalah Keniscayaan

Sebenarnya aku tak ingin mengingat-ingat lagi segala tentangmu, kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan saat masih bersamamu. Mengingatmu adalah sebuah kesia-siaan, membasahi luka lama. Melupakanmu adalah keniscayaan, sesuatu yang paling tak ingin aku lakukan, tapi harus. Ini rasanya seperti lelaki yang menjalani aborsi, memaksa sesuatu yang tidak mungkin bisa, bahkan jauh lebih berharga dari sesuatu keluar dari perutnya, meleburkannya menjadi darah-darah. Rasa sakitnya akan seiring menghilang dengan keringnya sisa-sisa darah dalam rahim.

Setelah aku tertolak olehmu, aku mengutuki diri sendiri. Aku tidak mengutuki nasibku, karena sama artinya aku mengutuk Tuhan. Dan aku tidak ingin menjadi sedurhaka itu dan membuat tumpukan dosaku semakin tak terkendali. Ini semua atas kesalahanku, dan bisa dikatakan kebodohanku yang masih saja aku pelihara. Aku benci diriku, tapi terlalu sayang untuk bunuh diri dengan cara konyol.
Share:

Tertolak

Awalnya aku beranggapan bahwa rasa ini adalah rasa yang sama dengan apa yang sedang kamu rasakan, namun ketika lisan ini berkata mewakili rasa yang bergejolak dalam dada namun bukan bahagia yang aku dapatkan melainkan rasa patah hati yang sangat mendalam.

Terkadang kejujuran dapat melukai perasaanmu namun akan mengakhiri rasa penasaran dalam hatimu, sehingga kamu dapat menentukan tujuan yang lebih jelas bukan tujuan yang hanya bersemayam dalam hayal.
Aku tidak menyesal dengan apa yang telah aku lakukan, justru aku merasa lega karena engkau telah berkata apa adanya walaupun hati ini merasa sedikit kecewa.

Sebelum aku mengatakan kata cinta padamu, aku sempat berdo’a kepada tuhan yang telah menciptakan bumi dan isinya agar jika engkau memang jodohku, maka dekatkanlah, namun jika engkau bukanlah jodohku maka berikanlah hati ini kelapangan.
Ungkapan bahwa cinta memang tidak selamanya harus saling memiliki ternyata memang benar adanya dan kini aku hanya bisa berdo’a agar kamu mendapatkan kebahagiaan yang tidak sempat aku berikan.

Perhatian yang kamu berikan, kedekatan selama kita bersama dan sunyum manis yang setiap hari kupandang ternyata bukanlah perasaan cinta yang selama ini aku rasakan.
Entah kenapa semakin aku berniat untuk menjauh dan melupakanmu, justru akal ini semakin memikirkanmu dan memaksa diri untuk mendekatimu.

Padahal jelas hati ini sakit karena kamu tidak membalas cintaku.
Share:

Belum Ada Judul

Aku menyukai sepi ketika aku berpikir,

Aku berdiri sebagai pria penuh emosi yang memilih meluapkan amarah, sedih, takut, dan bahagiaku melalui tulisan sederhana dari tinta kehidupanku.
Aku terbiasa diam memendam apapun yang kurasa,
walau dalam waktu-waktu tertentu aku terkadang mengeluh kepada mereka yang dekat denganku, tapi aku tak pernah ingin mereka tau apa yang sebenarnya ada di pikiranku.
Selama aku bisa berdiri sendiri dan berlari aku tak ingin seorangpun mengajari tentang bagaimana caraku berlari, namun aku tak akan menolak pertolongan mereka yang dekat denganku ketika aku pun mulai terseok-seok dalam langkahku dan aku tak akan segan menerima saran mereka untuk memberitahuku berlari yang baik :)

Aku mudah menangis,
tapi bukan berarti aku lemah dan tak berdaya atas hidupku,
hanya saja meski aku menjadi pria yang paling tangguh sekalipun tetap saja secara kodrat aku memiliki hati halus yang mudah terluka.
Namun sedikit berbeda dengan mereka yang mungkin hanya menangis dengan air mata, aku pun dapat menangis melalui tinta kehidupanku tanpa harus berteriak meraung-raung di atas lukaku.
Hidup dan realitaku adalah manis bagiku meski tak seindah yang kuharapkan.
Hidup dan realitaku tak ingin melihat hanya dengan sisi sempit mataku Dan aku pun belajar memahami dari berbagai macam sisi yang tak pernah terjamah.

“Ya Tuhan, jadikan diriku lebih baik dari penilaian mereka tentang diriku,
janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah mereka karena ketidaktahuan mereka tentang diriku”.
Share:

Letih . . . . . . !!!!

Mengekang nafsu serta menahan penderitaan
Juga menanti perubahan yang engkau kehendaki
Aku mengerti betapa tergores hatiku
Dan betapa terinjak harga diriku, tercampak
Mereka yang merangkulku manakala diri ini dibutuhkan
Namun, mereka memasungku saat tubuh ini tak dibutuhkan.
Adilkah . . . .? keharuan menyentuhku..
Dalam letihku, raga ini tetap tegar
Walau sebagai terbuang, terpasung.
Raga yang tenang dan diam bagai karang
Dalam diam-ku, tetaplah tegak…
Bagai tebing terjal yang kerap ku panjat
Pantang menangis bila tak perlu
Walau tersudut tetap menunggu
Tabah tersenyum walau terluka
Mereka akan terbahak manakala tubuh ini tersudut
Namun demikian tetaplah bersabar
Menahlukkan diriku sendiri
Jangan takut . . . .
Walau aku tahu mereka bersekutu
Karena suatu saat kelak
Sang gunung akan meledak
Bahkan gunung terkecil sekalipun
Dan, di saat itu mereka akan tahu
Betapa buasnya harimau luka
Apabila disulut dendamnya
Maka dari itu,
tegaklah lagi, berlarilah dan cakar kejamnya setiap perlakuan.

Share:

Pendidikan Pesantren

Pendidikan bukanlah kata yang asing di telinga masyarakat awam sekalipun. Karena seiring dengan laju perkembangan zaman, masyarakat Indonesia semakin tersadarkan tentang pentingnya pendidikan. Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali, mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka. Di dalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa ”Pendidikan hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup”. Ada beberapa pendapat lain mengenai definisi pendidikan.

Dictionary of Education menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum.
John Dewey: Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia karena pendidikan merupakan proses pengalaman. Setiap manusia menempuh kehidupan baik fisik maupun rohani. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, maka pendidikan merupakan proses yang membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi usia.
Ki Hajar Dewantara: Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya. Dalam pendidikan diberikan tuntunan oleh pendidik kepada pertumbuhan anak didik untuk memajukan kehidupannya. Maksud pendidikan ialah menuntun segala kekuatan kodrati anak didik menjadi manusia dan anggota masyarakat yang mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Dari sini, kita bisa melihat bahwasanya pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak didik agar bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri, masyarakat dan negara. Pelaksanaan pendidikan pun tidak serta merta berjalan apa adanya. Karena pendidikan merupakan kebutuhan, maka perlu ada strategi-strategi khusus, perencanaan yang matang, dan pelaksanaan yang profesional. Dalam pendidikan sendiri terdapat tujuh komponen yang inheren yakni: tujuan, kurikulum, metode, guru, murid, lingkungan, dan evaluasi.

Secara eksplisit, tertuang dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 BAB II (tentang dasar, fungsi dan tujuan) Pasal 3 yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan kita adalah yang tersebut di bawah ini:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis secara bertanggung jawab.
Dari perumusan tujuan di atas, semakin menegaskan bahwa pendidikan merupakan sarana yang mutlak diperlukan untuk mencapai kesejahteraan dan kemuliaan hidup.Dan seiring dengan laju perkembangan zaman, banyak kita lihat berbagai lembaga pendidikan mulai tumbuh dan berkembang. Baik yang mengusung semangat nasionalis, agamis maupun yang mengintegralkan keduanya, seperti munculnya SMP Islam, SMA Katholik dan sebagainya. Salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam yang berkembang pesat di Indonesia adalah pondok pesantren.

Pesantren, merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Para peserta didik di pesantren disebut dengan santri dan mereka menetap di suatu tempat yang disebut pondok. Ditinjau dari segi historisnya, pondok pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Pondok pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya. Sebuah lembaga yang bernama pondok pesantren adalah suatu komunitas tersendiri, di dalamnya hidup bersama-sama sejumlah orang yang dengan komitmen hati dan keikhlasan mengikat diri dengan kiai, tuan guru, buya, ajengan, abu atau nama lainnya, untuk hidup bersama dengan standar moral tertentu, membentuk kultur atau budaya tersendiri.
Nurcholish Madjid menyatakan bahwa dalam pondok pesantren haruslah ada lima elemen pokok, yakni; kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab klasik. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan membedakannya dengan pendidikan pada umumnya. Jumlah Pondok pesantren yang terdata oleh Education Management Information System (EMIS) Departemen Agama, tahun 2000/ 2001 sebanyak 11.312 dengan santri sebanyak 2.737.805.
Imam Banawi menyatakan bahwa keberadaan seorang kyai dalam lingkungan pondok pesantren laksana jantung kehidupan bagi manusia. Intensitas kyai memperlihatkan peran yang otoriter disebabkan kyai-lah perintis, pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin, dan bahkan pemilik tunggal pondok pesantren. Oleh sebab ketokohan di atas, banyak pondok pesantren yang kehilangan kharisma dan aura, bahkan bubar lantaran ditinggal wafat sang kyai.
Namun, seiring dengan semakin bertambahnya jumlah santri dalam sebuah pesantren, kyai tidak bisa berdiri sendiri untuk mengayomi seluruh santri. Oleh karena itu, kyai banyak dibantu oleh para guru (ustadz dan ustadzah) dalam menggerakkan roda pendidikan di tubuh pesantren. Dalam skripsi ini, penekanan lembaga pendidikan yang dimaksud adalah guru dan murid yang terlibat dalam pendidikan sekolah, dimana sekolah itu sendiri menjadi otoritas pesantren. Sehingga semua kebijakan, baik terkait anggaran, mata pelajaran, bahkan seragam dan lain-lain ditentukan oleh kebijakan pesantren sebagai pengayomnya.

Posisi guru di lingkungan pesantren adalah sebagai sosok yang digugu lan ditiru. Hal ini selama berabad-abad menjadi satu paradigma yang mengakar di kalangan santri selaku murid.  Pengejawantahan kitab ta’limul muta’allim yang sporadis membuat pondok pesantren menanamkan nilai-nilai sakti semisal; murid harus sam’an wa to’atan (mendengarkan dan taat), sendhiko dhawuh dengan satu iming-iming klasik, apalagi kalau bukan barokah. Adanya doktrin-doktrin inilah yang seringkali menjadikan murid mandek, stagnan dan tidak kritis. Mereka dituntut untuk menerima segala pengetahuan yang dicekokkan pada mereka sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Sebagai contoh, guru kurang memberikan stimulus bagi murid di sekolah dalam lingkungan pesantren untuk bersikap kritis, stimulasi yang diberikan seringkali hanya merupakan pemanis bibir agar seolah-olah memberikan ruang kritis bagi murid. Namun jika seorang murid memiliki pandangan berbeda dengan sang guru, guru akan segera menilai bahwa si murid-lah yang salah. Dalam hal mengajukan pertanyaan kritis, guru pun kurang terbuka bahkan enggan memberikan komentar. Contoh lain, dalam menerapkan hukuman, seperti yang dicontohkan dalam novel ini, bergaya militer dan semena-mena. Guru seolah berhak menghukum murid dalam bentuk apapun sedang sang murid dilarang protes lantaran protes itu akan menyebabkan ketidakbarokahan atau dianggap melawan dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur dalam kitab ta’limul muta’allim. Padahal, dalam kitab ta’limul muta’allim juga dijelaskan bahwa seorang guru harus berbudi luhur, berdada lebar, dan penyabar. Pemahaman yang tidak komprehensif terhadap kitab ta’limul muta’allim menjadikan sebagian guru yang seharusnya memiliki sifat welas asih, demokratis dan sebagainya, justru menjadi sosok yang bisa jadi memenggal progresifitas, memancung pluralitas, dan membunuh dialektika dan dinamika keilmuan yang senantiasa berkembang.

Pada akhirnya, realitas semacam itulah yang membuat banyak pihak melontarkan kritik terhadap pola pendidikan di pesantren. Banyak yang menyatakan bahwa akar dari berkembangnya pola interaksi semacam itu adalah dilestarikannya pengajian ta’limul muta’allim yang diyakini sebagian orang telah tidak relevan dengan tuntutan pendidikan era global karena hanya memposisikan murid sebagai objek dan guru dipandang sebagai seseorang yang berdiri di menara gading dan sangat elitis. Padahal, interaksi guru dan murid merupakan hal yang vital dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Pola interaksi guru-murid yang baik, akan menciptakan suasana belajar yang edukatif dan menyenangkan. Sebaliknya, pola interaksi yang terlampau formal menyebabkan kerenggangan hubungan antara guru-murid yang berdampak pada suasana belajar yang cenderung menengangkan dan kaku. Sehingga, dapat dikatakan bahwa dalam interaksi guru dan murid inilah terjadi proses edukasi dan sosialisasi.

Kritik tajam perihal interaksi di tubuh pesantren yang cenderung otoriter, kurang demokratis dan memposisikan murid sebagai objek didik tak hanya dilisankan dalam forum-forum diskusi tapi juga melalui tulisan-tulisan yang tersebar di berbagai media, dalam bentuk fiksi maupun non fiksi. Salah satu dari banyak tulisan yang mengkritik habis pola interaksi guru-murid adalah novel Love in Pesantren karya Shachree M. Daroini yang notabene alumni pondok pesantren.
Share:

Walau Bukan Untukku

Malam yang tak kau harapkan, terpejam mata bersama asa. Ku lalui jalan tanpa harapan. Lelah aku di sini, namun tak lelah ku menanti tentangmu. Diam dalam gelisah tak jadikanku hilang akan hatiku.
Mungkin aku mati dalam jiwa, namun semua tidak tersirat dalam perkataan dan khayalanku.Kau hadir tanpa ku nanti dan kau di sini tanpa ku minta. Namun mengapa harus bertahan jika memang tak akan pernah ada harap dan kenyataan?
Pupus aku nanti, diam tak berarti. Ku ingin lari dan melangkah. Namun, aku hanya bersandar tanpa pesan. Ku tutup ribuan kisah untuk meneruskan kisah ini apa adanya. Hadirmu merubah hidupku, keberadaanmu adalah keindahan. Walau tak bisa ku milikki, namun kau terukir manis dan tak terganti.
Indahmu tak untukku, siapkan hati tak kunjung sirna.Malam berganti, bulan berlalu, hari tertutup. Harus aku menunggu dalam kegelisahan?Tak ku lukiskan kehancuran dalam kegelapan, tak ku ukirkan luka dalam pengharapan, tak ku isyaratkan rasa dalam tatapan.
Luka tak berarti kepedihan, duka tak berarti kehilangan. Dalam asa penuh penantian, ku tak akan tutup semua kisah karena aku hanya sepenggal cerita sementara.Bila aku tak lagi mampu menahan semuanya, haruskah aku ungkapkan semua yang ku rasa.
Bila tak lagi ada tempat, haruskah aku tetap menunggu dan bertahan?Aku tak mampu ungkapkan rasa ini semudah yang aku ungkapkan ketika aku luka.Bila ku tak bisa bertahan, apakah aku harus mencair bersama luka?Diam tak lagi bertahan, senyum tak lagi bahagia. Aku menunggu tak henti sampai kapan.
Kamu bukan milikku, tapi setia ini tetap milikmu..
Share:

Tuhan, Aku Ingin Marah.


Pada awalnya aku percaya setiap emosi diciptakan untuk sesuatu yang baik, sesuatu yang memang memiliki manfaat bagi individu yang merasakannya, bahkan emosi negatif sekalipun. Tapi entah sejak kapan, percaya itu menjadi sekedar kata, dan kata itu pun hilang tertelan potensi kognitif.

Aku menghapus kata “marah” dalam diriku. Berpikir bahwa tanpa kata itu aku tidak akan pernah lagi merasa marah. Berpikir bahwa tanpa kata itu aku akan lebih bijak untuk menyatakan kekecewaan dan bukan luapan amarah. Berpikir, setidaknya, aku akan lebih menikmati hidup tanpa lebih banyak emosi negatif dalam diriku.

Awalnya aku berjuang untuk berkata “aku kecewa” dan bukannya “aku marah” meski rasa sesak yang kurasa lebih dari sekedar kecewa, tapi seiring waktu aku semakin ‘mahir’ dan secara otomatis masuk dalam mode “tidak marah” kapan pun aku merasakan situasi yang tidak sesuai dengan inginku.

Apa gunanya sih marah itu? Bertahun-tahun hidup dengan emosi marah yang kudapatkan hanya luapan-luapan emosi berlebihan yang sebenarnya hanya bentuk kekecewaanku. Berlebihan bila kejadian yang kualami disebut marah, harusnya itu hanya disebut kecewa saja, bukan marah. Mereka yang menyebut diri bijak juga berkata tak ada gunanya marah itu. Tidak akan menyelesaikan masalah, justru hanya akan menambah masalah. Mari kita hapus saja kata ‘marah’ dalam kamus kehidupan.

Tanpa marah, emosi yang menyesakkan diriku adalah kecewa, kecewa, dan kecewa. Entah intensitasnya seberapa, entah hatiku terluka seberapa parah, aku hanya akan berkata “aku kecewa”. Tidak (boleh) ada nada tinggi dalam ucapanku. Tidak (boleh) ada rasa geram dan getir dalam hatiku. Semua itu harus dihapuskan seiring kata ‘marah’ yang menghilang. Dan ketika semua sudah tidak dapat ditahan, katakan saja “Ya sudahlah”, seakan masalah langsung berlalu, seakan emosi langsung menyurut.

Tapi, apakah “Ya sudahlah” menuntaskan rasa sakit yang kurasakan? Apakah “Ya sudahlah” membuatku mampu melangkah dengan ringan? Ternyata aku hanya mengorbankan hatiku untuk lebih terluka dengan kekecewaan dan rasa marah.

Iya, ternyata marah tidak hilang dari diriku, aku hanya memendamnya. Begitu dalam rasa marah itu terpendam hingga membuatku kehilangan rasa-rasa yang lain. Aku bingung perbedaan rasa “kecewa” dan “marah”. Aku bingung dengan rasa “bersalah” dan “menyalahkan diri sendiri”. Aku bingung dengan menjadi “lemah” dan “berterus terang”. Aku bingung dengan “menjadi diriku sendiri”.

Aku ingin marah. Rasa yang teramat ini sudah tidak bisa dikatakan “sekedar kecewa”. Rasa ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan berkata “Ya sudahlah”. Bukan ingin menghujat Tuhan dengan rasa “tidak bersyukur”, justru aku ingin sangat mensyukuri keadaan diriku meskipun dalam situasi “marah”.

Tuhan, aku ingin marah. Aku ingin menunjukkan kecewaku karena disakiti, ketidak-puasanku akan sesuatu, kekesalanku karena diperlakukan tidak adil. Aku ingin marah dan menikmati rasa marahku. Aku ingin jujur pada diriku hingga aku mampu menerima diriku seutuhnya, yang juga memiliki rasa “marah”.


Seperti halnya rasa senang, rasa sedih diciptakan juga karena memiliki makna dan untuk dinikmati.
Seperti halnya rasa bersyukur, rasa marah juga memiliki peran dalam hidup manusia. Aku boleh dan bisa marah…

Share:

There will be no more

Aku mengerti tentang luka yang tak sepenuhnya ku pahami bagaimana cara menyembuhkannya, aku mengerti tentang kecewa yang tak selamanya ku tau bagaimana caranya untuk kembali bahagia.
Aku memahami tentang kamu yang tak seutuhnya mampu jadi yang terbaik bagimu dengan semua kekurangan dan kesalahan yang aku punya dan yang ku buat.
Aku tak pernah impikan langkah sempurna bersamamu, yang selalu ada dalam anganku adalah aku bisa tumbuh dewasa bersamamu, mengajariku bagaimana untuk bersikap kala keadaanmu tak menentu.
Aku mempelajarimu dari diammu, dari kekakuanmu, dan dari caramu menjauh. Tak sepenuhnya aku mampu membaca apa yang tak terucap, karena aku dilahirkan untuk bisa berkomunikasi denganmu, bukan membaca pikiranmu.

Tentangmu bukan bicara luka, tapi bicara bagaimana aku bisa terus tumbuh jadi lelaki dewasa tanpa memaksakan kehendakku untuk bisa bersamamu saat ini.
Aku bukan tak pernah terluka, namun kali ini aku tak harapkan lagi luka itu ada. Aku bukan sosok yang mudah menyayangi lalu ingin bersama, tapi aku mudah terluka lalu diam bersama sedih.

Bagaimanapun langkahku kemarin bersamamu, bagaimanapun semua cerita bersamamu, apapun yang dijalani kemarin, adalah sebuah kenangan dalam tulisan.
Kita tak pernah bertatap muka untuk bicarakan ini, tapi aku tau pasti Tuhan mengerti bagaimana hati menolak untuk berdekatan.
Tuhan mengerti bagaimana untuk menjauhkan yang tak mungkin bersama.

Aku tak pernah usapkan apapun yang ada pada dirimu, termasuk airmata dan luka, aku hanya hadir untuk menyemangati, lalu kini tugasku sudah selesai.Aku hanya titipkan satu nama pada Tuhan, agar nama itu IA yang menjaga, karena aku tau penjagaanku tak akan lagi sampai kepadanya.

Bagaimanapun rindu itu ada, aku hanya ucapkan dalam do'a, tanpa harus ku katakan lagi apa yang sebenarnya aku rasakan.
Tuhan yang tau apa yang kamu butuh, hanya ada do'a untuk menguatkanmu, aku hanya ingin Tuhan bahagiakanmu dengan mewujudkan apapun yang kamu impikan.

Bagaimanapun langkah yang sendiri tidak akan benar benar baik jika terbiasa bersama, dan kini aku membiasakan diri untuk sendiri, karena aku tau kamu dihadirkan bukan untuk melukai, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menjadi pembelajaran bagiku tentang banyak karakter yang belum pernah aku temui.. aku tau aku kuat dengan caraku melalui jalan yang Tuhan tetapkan.

Bahagia untukmu selalu :')
Share:

God, I was Alone

Saat aku memilih diam untuk menjalani hidup ini, mungkin aku berfikir bahwa semua sudah tidak berguna lagi.
Berlari, memang aku ingin berlari, berlari meninggalkan semua cerita ini.
Jenuh, aku memang jenuh.
Ingin aku menangis dalam kesendirian, namun sekali lagi aku gagal.
Entah ada apa dengan hatiku, seakan aku hanya berjalan sekena apa yang memang ingin aku lakukan.
Hentikan langkahku jika memang aku hanya tersenyum bersama airmata, bahagia yang sebenarnya tidak aku rasakan ketika aku menangis dalam sepi.
Tuhan, masih pantaskah aku berada di sini, sementara aku hanya mampu tersenyum seperti nada terpaksa..
Belajar mengerti dan menerima suatu keadaan sementara aku tau, bahwa aku tidak akan mampu melewatinya.
Semua aku jalani sesuai "siapa aku sebenarnya" aku hanya manusia yang masih membutuhkan bimbingan untuk langkah kecilku mengenali kerasnya dunia.
Menangis, perlukah aku berteriak selama tangisku?

Siapa yang mampu mengerti aku dengan sebagian kecil inginku?
Siapa yang mau memahami mimpi yang aku gambarkan dalam hidupku?
Apa yang akan orang katakan jika itu memang keinginanku? " Aku bertanya bersama asa, mengejar semua kesalahan, menghapus semua kesakitan "
Tuhan, aku minta maaf kalau kehadiranku untuk seseorang ternyata menyakitkan orang itu.
Aku memang sakit, aku memang berharap, aku memang menanti.
Tapi, aku tidak pernah menginginkan siapapun mengalami apa yang aku rasakan, karena aku tau sakitnya rasa yang seperti itu.
Seakan tidak punya semangat, sementara sahabat selalu di sisi.
Mungkinkah aku merelakan semuanya begitu saja, sekejap aku tersenyum dalam tangis, menahan diri melupakan semua.
Haruskah aku terus seperti ini?
Terdiam kala aku tau bahwa aku sudah benar-benar menyerah, menyerah dengan keadaan ini.

Tuhan, hentikan tangisku, ingin ku lihat senyumku yang benar memang itu diriku
Share: