Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Ingin Menghilangkan Kata "Marah"

Pada awalnya aku percaya setiap emosi diciptakan untuk sesuatu yang baik, sesuatu yang memang memiliki manfaat bagi individu yang merasakannya, bahkan emosi negatif sekalipun. Tapi entah sejak kapan, percaya itu menjadi sekedar kata, dan kata itu pun hilang tertelan potensi kognitif.
Aku menghapus kata “marah” dalam diriku. Berpikir bahwa tanpa kata itu aku tidak akan pernah lagi merasa marah. Berpikir bahwa tanpa kata itu aku akan lebih bijak untuk menyatakan kekecewaan dan bukan luapan amarah. Berpikir, setidaknya, aku akan lebih menikmati hidup tanpa lebih banyak emosi negatif dalam diriku.

Awalnya aku berjuang untuk berkata “aku kecewa” dan bukannya “aku marah” meski rasa sesak yang kurasa lebih dari sekedar kecewa, tapi seiring waktu aku semakin ‘mahir’ dan secara otomatis masuk dalam mode “tidak marah” kapan pun aku merasakan situasi yang tidak sesuai dengan inginku.
Apa gunanya sih marah itu? Bertahun-tahun hidup dengan emosi marah yang kudapatkan hanya luapan-luapan emosi berlebihan yang sebenarnya hanya bentuk kekecewaanku. Berlebihan bila kejadian yang kualami disebut marah, harusnya itu hanya disebut kecewa saja, bukan marah. Mereka yang menyebut diri bijak juga berkata tak ada gunanya marah itu. Tidak akan menyelesaikan masalah, justru hanya akan menambah masalah. Mari kita hapus saja kata ‘marah’ dalam kamus kehidupan.

Tanpa marah, emosi yang menyesakkan diriku adalah kecewa, kecewa, dan kecewa. Entah intensitasnya seberapa, entah hatiku terluka seberapa parah, aku hanya akan berkata “aku kecewa”. Tidak (boleh) ada nada tinggi dalam ucapanku. Tidak (boleh) ada rasa geram dan getir dalam hatiku. Semua itu harus dihapuskan seiring kata ‘marah’ yang menghilang. Dan ketika semua sudah tidak dapat ditahan, katakan saja “Ya sudahlah”, seakan masalah langsung berlalu, seakan emosi langsung menyurut.

Tapi, apakah “Ya sudahlah” menuntaskan rasa sakit yang kurasakan? Apakah “Ya sudahlah” membuatku mampu melangkah dengan ringan? Ternyata aku hanya mengorbankan hatiku untuk lebih terluka dengan kekecewaan dan rasa marah.
Iya, ternyata marah tidak hilang dari diriku, aku hanya memendamnya. Begitu dalam rasa marah itu terpendam hingga membuatku kehilangan rasa-rasa yang lain. Aku bingung perbedaan rasa “kecewa” dan “marah”. Aku bingung dengan rasa “bersalah” dan “menyalahkan diri sendiri”. Aku bingung dengan menjadi “lemah” dan “berterus terang”. Aku bingung dengan “menjadi diriku sendiri”.

Aku ingin marah. Rasa yang teramat ini sudah tidak bisa dikatakan “sekedar kecewa”. Rasa ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan berkata “Ya sudahlah”. Bukan ingin menghujat Tuhan dengan rasa “tidak bersyukur”, justru aku ingin sangat mensyukuri keadaan diriku meskipun dalam situasi “marah”.

Tuhan, aku ingin marah. Aku ingin menunjukkan kecewaku karena disakiti, ketidak-puasanku akan sesuatu, kekesalanku karena diperlakukan tidak adil. Aku ingin marah dan menikmati rasa marahku. Aku ingin jujur pada diriku hingga aku mampu menerima diriku seutuhnya, yang juga memiliki rasa “marah”.
Seperti halnya rasa senang, rasa sedih diciptakan juga karena memiliki makna dan untuk dinikmati.
Seperti halnya rasa bersyukur, rasa marah juga memiliki peran dalam hidup manusia. Aku boleh dan bisa marah…
Share:

Di Masa Itu

Hari ini sehabis Magrib aku bertemu dengan guruku, guru disaat membinmbingku waktu di bangku Tsanawiyah. Cukup lama kita berbincang ditengah Alon-alon Kabupaten Blora, tapi ada bebrapa perbincangan yang cukup membuat fikiranku gusar sampi saat ini. Saat aku ditanya oleh guruku, “Pernah engkau merasa ingin kembali ke masa lalu untuk merubah suatu keadaan?” ia menatapku, bukan tatapan yang menginginkan sebuah jawaban segera, tapi tatapan yang menginginkan kejujuran.

Aku mengangguk, wajahku tertunduk. “Tentu, tentu aku pernah menginginkan tentang semua yang pernah aku lakukan, ini suatu kodrat yang tak satupun manusia tak merasakannya” umpatku dalam hati sambil mencabut rumput yang ada di sekelilingku.

Guruku tersenyum sambil menatapku. Ia terdiam cukup lama, seakan ia mendengar jelas umpatan yang aku katakan barusan dalam hati. “Tapi, sungguh ia mampu mendengar apa yang aku umpatkan barusan?” pertanyaan itu tak henti-hentinya menggaung dalam kepalaku.

Lalu ia menarik nafas bersiap untuk berbicara “Ini bukan tentang agama yang ingin ku sampaikan, bukan tentang bahwa kita harus menyesali kesalahan yang ada dalam masa lalu kita dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi dikemudian hari” ia tertahan, nafasnya sedikit tersengal, sudah lama guruku tak berbicara panjang lebar.

“Aku sudah bertemu banyak orang yang terlalu larut dalam kesedihan mengenai masa lalunya, ia terjerembab namun tak mampu bangkit, ia berusaha namun tak ada yang bisa memapahnya. Aku ingin memberi tahu engkau tentang masa lalu dari pengalamanku” Ia menghembuskan, lalu mengambil ancang-ancang lagi untuk berbicara.

“Pernah aku tertegun pada masa lalu, aku ingin kembali pada masa itu karena bagiku itu masa-masa yang sangat indah dan menyenangkan. Masa saat tubuhku ini masih kuat untuk berjalan jauh, saat aku masih bisa menatap istriku tercinta setiap pagi saat aku membuka mata, saat aku melihat anak-anakku tumbuh dewasa. Namun itu sudah menjadi masa lalu”. Ia berkaca-kaca, terlebih saat bercerita tentang istrinya yang meninggal 4 tahun yang lalu.

Ia menatap pohon beringin yang berdiri tak jauh dari ia duduk sekarang, ia menatap dengan seksama. Lalu ia menunjuk pohon itu “Engkau lihat pohon beringin itu, semakin hari pohon ini semakin tinggi, hingga ia tak mampu lagi tumbuh tinggi. Tapi ia penuh dengan pengalaman saat berusaha tumbuh, ia menjadi lebih kuat, makin hari dahannya makin lebat, batangnya makin kokoh, akarnya menghujam makin dalam. Ia lebih kuat”

“Belajarlah dari pohon beringin itu, ia tumbuh besar dan tak pernah berharap kembali ke masa lalu. Karena masa lalu adalah kondisi yang lemah, dan saat ini ia semakin menjadi lebih kuat. Beringin selalu belajar untuk memperkuat dirinya setiap hari” Ia menghela nafas, semakin cepat saja guruku ini bernafas.

“Ingat Ka, aku adalah gurumu yang mengagumi semua kemampuanmu, tapi, jika manusia ingin kembali pada masa yang sudah terlewati, ia belum sepenuhnya memahami bahwa masa itu tak lebih kuat dari masa ia sekarang berada. Yang perlu ia lakukan adalah mensyukuri ia masih diberikan kesempatan untuk menciptakan masa lalu sesuai keinginan masa depannya” Guruku menghembuskan nafas tanda ia menyudahi obrolan malam ini, lalu ku amati ia menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya, ada dua cincin di jari itu.

Aku terdiam, masih terdiam sambil mengamati guruku dan sesekali mencabut rumput sekelilngku dengan perasaan gusar.
Share:

Sejarah akan terulang kembali

Kata itu tak pernah punya makna yang berarti buat saya. Sejarah akan terulang, dengan pelaku yang berbeda, output-nya juga berbeda, so what? Njuk ngopo?...... kira-kira begitu pikir saya.
Sebelum masuk ke tema ‘sejarah’, saya sepertinya tidak tahan kalau tidak berkomentar tentang bingkai di mana ‘sejarah’ ini bergolak. Secara implisit dan eksplisit,bacaan ini banyak meletakkan titik persoalan dari kacamata bingkai Indonesia. Yaitu sebuah negara di Asia Tenggara, kenyang dijajah, merasa merdeka, dan merasa lahir tak lama setelah bom atom meledak di negeri salah satu penjajahnya.
Setelah merdeka. Melalui pendidikan dasar, menengah, sampai tinggi, di benak kita ter-bangun persepsi bahwa penjajahan selalu identik dengan penindasan.
Dan penindasan terkonotasi dengan perbuatan sewenang-wenang untuk memaksakan kehendak. Hmm...
Jadi, kalau memaksakan kehendak dengan alasan yang ‘mulia’ dan tidak terlihat sewenang-wenang, kata ‘memaksakan kehendak’ menjadi tidak terlalu ‘menjajah-menjajah’ amat,‘gitu?
Di sini terlihat perkembangan paradigma yang sangat menarik. Ada rumus baru untuk menjajah secara ‘halal’, menjajah yang bebas hujatan, bahkan menjajah dengan sebuah cara, sehingga yang dijajah tak merasa terjajah. Yaitu memaksakan kehendak dengan motif atau alasan yang (seolah-olah) tepat alias mulia. Cara kekerasan untuk menjajah sudah kuno dan terlalu kasar.

Sayangnya,  cara  pandang  kita  sendiri  belum  dirombak  untuk memahami fenomena baru ini. Padahal seharusnya tidak terlalu sulit untuk menilai sesuatu sebagai bentuk penjajahan atau bukan. Yaitu menilai kembali apa yang digemborkan sebagai ‘mulia’, yang menjadi dasar ‘pemaksaan terselubung’ tersebut. Menilai sendiri! Tidak hanya mengadopsi.
Beberapa buku yang pernah saya baca  memaksa  saya  membuka  catatan-catatan  lama  tentang matinya  industri  minyak  kelapa,  garam  dan  industri-industri  ‘asli’ Indonesia. Sangat tidak ingin saya menyimpulkan dengan gegabah dari hasil penggalian-penggalian tersebut, tetapi sering sekali kesimpulan-kesimpulan itu datang sendiri seperti curahan hujan di mendung yang kelam (maaf kalau lebay). Bagaimana kedaulatan yang saya percayai sejak saya bisa ikut upacara bendera dulu, ternyata tak lebih bisa dipercayai dari cerita kancil mencuri timun. Cerita anak-anak belaka.
Motif  saya  sederhana,  bukan  teori  konspirasi  atau  pelarian  anak bangsa  yang  frustrasi(walaupun  sesungguhnya  agak  frustrasi  juga). Saya hanya tidak mau dijajah lagi. Apa pun bentuknya: fisik, ideologi, ekonomi, atau entah nanti apa lagi. Dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi. Jangan-jangan, selera musik yang saya dengarkan pun hasil dari penjajahan secara halus. Lantas apa yang menjadikan diri kita adalah kita? Ini, jujur saja, meresahkan saya.
Bukan tentang pro dan kontra, tetapi dalam mencoba memandang sesuatu dari sudut yang lebih lebar, dan melihat pada lapisan yang lebih dalam.
Terutama tentang carut-marutnya perdebatan sikap kita terhadap rokok; maaf, terhadap kretek.
Dari pembahasan tentang kretek ini saja, saya merasa diberi peer  besar. Apakah  tugas  saya  sebagai  generasi  (yang  merasa)  muda, benar-benar mengisi kemerdekaan? Atau sebenarnya kita malah belum merdeka? Apakah perjuangan menuju kemerdekaan itu sendiri belum selesai? Karena definisi penjajahan pun dinamis dan tidak pada satu
sudut, cara, dan jarak pandang saja.
Pertanyaan ini jelas mengganggu saya.
Share:

Hakikat Pengorbanan

Kita tak selalu bisa mendefinisikan pengorbanan. Karena kita tak pernah melakukan perhitungan secara matematis pengorbanan apa yang sudah atau orang lain lakukan untuk kita, dalam kehidupan manusia tak ada yang bisa membantah kalkulasi definitif matematis. Tapi apakah ada matematika untuk berkorban?

Tak salah jika pengorbanan bukan perhitungan, karena memang seperti itu seharusnya. Tapi apakah ada orang yang hitung-berhitung dalam pengorbanan? Tentu akan selalu ada orang seperti itu terlebih saat keikhlasan tak menyertai perbuatannya atau saat ia kecewa akan hal yang sedang ia perjuangkan.

Perhitungan akan mengaburkan tuntutan yang kita inginkan, karena segala hal yang kita lakukan tak ada yang terukur secara pasti. Apakah kita bisa mengatakan bahwa belajar 10 jam semalam suntuk adalah pengorbanan yang pantas untuk kita beri nilai 10 dibandingkan dengan belajar 10 jam terbagi dalam 7 hari? Sekarang kita kabur akan makna pengorbanan tersebut.

Maka Tuhan menghadirkan rasa ikhlas dan syukur. Aku memang bukan pendakwah yang tahu seluk beluk agama, namun aku mencoba belajar untuk ikhlas dalam melakukan berbagai hal tanpa menyebut itu sebagai pengorbanan dan tanpa melakukan coretan-coretan perhitungan setelahnya. Aku berusaha menghadirkan keikhlasan meskipun itu tak mudah, dan bersyukur yang memang sangat sulit.

Hingga detik inipun, aku masih belajar syukur, dimana aku sadar ketika berbagai hal yang sudah ku lakukan perlu untuk mendapatkan apresiasi syukur tertinggi, karena Tuhan masih memberi aku kesempatan untuk belajar dan memperbaiki. Ikhlas dan syukur bagiku merupakan kata lain dari ketenangan dalam hidup.

Aku tak pernah bisa mengukur pengorbanan yang dilakukan oleh keluargaku, oleh Ibuku misalnya. Yang bisa ku lakukan adalah melakukan apa yang sudah aku jalani hingga saat ini sebaik mungkin, bukan semata untuk membalas pengorbanan yang sudah beliau lakukan, namun lebih menunjukkan penghargaan agar ia lebih mudah bersyukur tentang apa yang sudah ia lakukan untukku. Aku ingin menghargai apa yang sudah beliau lakukan dengan sebaik mungkin.

Hal paling penting dalam pengorbanan adalah berusaha untuk menghargai, jika sudah tak ada rasa sedikitpun untuk menghargai maka sudah tak ada yang berarti, juga dalam hal lain aku pun berusaha memahami bahwa setiap lelaki baik-baik tahu kapan ia harus mundur dan memutuskan untuk berhenti.
Share:

DESAKAN UNTUK BUBARKAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA (HTI)

Hizb ut Tahrir atau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan organisasi politik yang sedang berupaya mendapatkan kekuasaan dan menguasai umat Islam atas nama Khilafah Islamiyah yang mereka cita-citakan.

Kelompok ini mengklaim berdiri pertama kali di Palestina meskipun secara resmi sebenarnya berdiri di Yordania. Saat ini, Hiz ut Tahrir berpusat di Inggris. Dari sana mereka memantau perkembangan HT diseluruh dunia.
Kelompok ini didirikan oleh Taqiyddin bin Ibrahim an-Nabhani. Dia dilahirkan tahun 1909 M di Desa Ijzam yang terletak di sebelah selatan Kota Jifa, Yordania. Dia banyak terpengaruh oleh kakeknya, Yusuf Isma’il an-Nabhani yang dikenal dengan pemikiran sufinya dan permusuhannya kepada Salafush Shalih sebagaimana di dalam banyak tulisan-tulisannya seperti Syawahidul Haqqi fi Istighatsah Bisayyidil Khalqi.

Pada tahun 1952 dia mengajukan permohonan resmi kepada Kementerian Dalam Negeri Yordania untuk mendapatkan izin bagi partainya yang bernama Hizbut Tahrir al-Islami, tetapi permohonannya ditolak. Sesudahnya, kelompok Hizbut Tahrir melakukan aktivitas politik secara rahasia.

Taqiyuddin an-Nabhani meninggal pada tanggal 10 Desember 1977 di Lebanon dengan meninggalkan karangan yang cukup banyak yang menjadi referensi acuan gerakan dan pemikiran Hizbut Tahrir, di antaranya :
- Nizhamul Islam (Peraturan hidup dalam Islam)
- Nizhamul Hukmi fil Islam (Sistem Pemerintahan Islam)
- Nizhamul Iqtishadi fil Islam (Sistem Ekonomi Islam)
- Nizhamul Ijtima’i fil Islam (Sistem Pergaulan Dalam Islam)
- At-Takattul Hizbi (Pembentukan Partai)
- Asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah (Kepribadian Islam)
- Nida’ul Har ila Alamil Islami (Seruan Kepada Dunia Islam)

Dan beberapa kitab lainnya. Kitab-kitab diatas banyak sekali menyelisihi pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan terpengaruh oleh filsafat Mu’tazilah (lihat al-Jama’at al-Islamiyyah hlm. 282 dan Mausu’ah al-Muyassarah hlm. 344).

Di Indonesia, HTI masih dirangkul oleh pemerintah sehingga terdapat sebagai salah satu organisasi masyarakat (ormas) dinegara yang dianggap oleh HTI sebagai negara kufur (negara bersistem kafir). Pandangan HT tersebut bertentangan dengan pandangan mainstream umat Islam yang mengakui Indonesia (NKRI) sebagai sebuah negara yang sah secara hukum Islam (syari'at).

Berpijak dari pandangan mengkufurkan NKRI, HTI terus berupaya untuk mengubah NKRI menjadi Khilafah Islamiyah yang diklaim sebagai kelanjutan daripada Khilafah Nubuwwah. Segala usaha dikerahkan oleh HTI untuk tujuan Khilafah mereka. Disisi lain, mereka tidak mengakui Khilafa lainnya seperti yang diklaim oleh kelompok Khilafatul Muslimin, Khilafah IS (ISI) dan lainnya.

Ide pemikiran luar biasa HTI dimulai di negeri asal yakni di Yordania oleh Taqqiyudin An Nabhani. Hizbut Tahrir dirintis dan langsung menolak segala konsep aturan-aturan yang ada di negeri asalnya. Menganggap negerinya kufur dan dia pun menyatakan tidak pernah untuk patuh dan taat terhadap semua aturan yang ada, karena Keras dan lantang langsung memberikan dampak bagi organisasinya. Singkat cerita akhirnya Hizbut Tahrir pun dilarang beredar dan ditetapkan sebagai Organisasi terlarang di Yordania.

Luar biasa, walaupun sudah dilarang di negeri asalnya tapi organisaasi tersebut mampu untuk mengepakkan sayapnya ke seantero dunia. Hizbut Tahrir merambah ke Indonesia sejak 1981 melalui Ustad Abdurrahman Al Baghdadi di Bogor. Pengembangan HTI menjadi organisasi politik menempuh jalan radikal dan keras menantang sistem-sistem di bumi Indonesia, sama seperti di negeri asalnya.

Landasan Idiil Indonesia (baca: Pancasila) diciptakakan oleh Founding Father (baca: Soekarno) untuk dijadikan pedoman bangsa. Saat masa orde baru bahkan Pancasila dimasukan dalam kebijakan P4 oleh Soeharto. HTI mengatakan bahwa semua itu berasal dari hukum buatan manusia yang tidak patut untuk ditaati oleh manusia-manusia lain. Hukum dari Tuhan-lah (konteks HTI adalah Al Quran dan sunnah) yang harus di patuhi dan dijadikan sumber dari segala sumber hukum.

Jumlah negara yang terdata sampai tahun 2011 berjumlah 192 negara dan tidak ada satu pun yang menggunakan hukum yang diinginkan oleh HTI, maka apa yang HTI perjuangkan untuk membentuk pemerintahan Khilafah adalah sebuah  mencipatakan satu teritorial atau wilayah yang sesuai dengan asas dari HTI, yakni Daulah Islamiyah. Maka sama saja menciptakan sebuah negara baru, yang lepas dari negara yang ada.

Keutuhan Indonesia adalah harga mati, tidak bisa di tawar lagi dengan apa pun. Keberadaan HTI yang bergerak semaunya sendiri dengan mencaci maki sistem dan hukum di Indonesia harusnya sebuah tindakan yang tidak bisa di tolerir lagi, namun apa yang terjadi sekarang? Kita bisa melihat tindakan HTI semena-mena melecehkan Hukum Indonesia lantang sekali, upaya-upaya kongres khilafah yang dilakukan oleh HTI mengundang kemirisan di hati seorang Pluralis.
Langkah konkret yang harus dilakukan oleh pemerintah RI adalah menindaklanjuti dengan menolak HTI, melarang keberadaan organisasi tersebut seperti di Yordania. Apabila didiamkan saja, bukan tidak mungkin tindakan Makar yang berjenis Kudeta berdarah akan terjadi di Indonesia. Konsistensi HTI dengan Khilafah harus ditandingi dengan upaya meng-counter HTI, bukan hanya diam saja melihat pergerakan HTI. Bodoh, sangat bodoh pemerintah RI. Jangan-jangan HTI punya kekuatan di pemerintah, jadi pemerintah takut? Hahahaha...

Penentangan HTI terhadap sistem di Indonesia tidak bisa di tawar, mereka menolak dari akar sampai permukaan. “Rubah semua sistem dengan sistem dengan hukum Alloh, Khilafah harus tegak.” Seru aktivis HTI. Padahal indonesia sudah punya Pancasila. Berarti Indonesia ditentang keberadaannya oleh HTI, tapi aneh kok pake ‘Indonesia’ di nama organisasinya (HTI= Hizbut Tahrir ‘Indonesia’). Bisa dikatakan HTI mengakui Indonesia, dan jika mengakui berarti sama saja HTI mengikuti hukum di Indonesia. Kata Taqqiyuddin hukum di negara yang ada di dunia adalah Kufur, kok HTI mengakui?

Upaya-upaya Hizb ut Tahrir tersebut pada dasarnya merupakan bagian daripada aksi bughot (makar) yang dilarang oleh syariat Islam. Dalam kata lain, HT terus-terusan melakukan pelanggaran atas Syariat Islam.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, ada tiga kesepakatan besar para pendiri republik ini yang tak terpisahkan dan tidak bisa diganggu gugat, yakni NKRI sebagai bentuk negara, Pancasila sebagai dasar negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Dengan pandangan yang jauh ke depan, para pendiri bangsa ini dengan arif dan bijaksana menyadari akan pluralitas atau kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam agama, suku, budaya dan adat istiadat yang mereka tuangkan dalam ketiga kesepakatan bersejarah di atas. Mengubah atau berusaha mengubah salah satu saja dari ketiga kesepakatan besar para pendiri republik ini bisa dikategorikan sebagai tindakan makar. Berpijak dari sini, dengan mencermati paham yang diusungnya, HTI sebenarnya bisa dikategorikan atau mempunyai potensi besar sebagai pelaku makar. Namun untuk saat ini, dengan melihat sepak terjang yang mereka lakukan, mereka masih berada dalam tataran sebagai konseptor makar. Karena mengancam kelangsungan sebuah negara dan bangsa, upaya atau tindakan makar amatlah berbahaya dan perlu diwaspadai. Harus ada tindakan-tindakan negara yang bersifat sistematis untuk mencegah dan menanggulanginya. Karena kegagalan negara untuk mencegah atau menanggulanginya akan memberikan akibat fatal yang bisa menjatuhkan negara dan bangsa. Dari catatan sejarah, dimasa pemerintahan Presiden Soekarno, banyak terjadi upaya dan tindakan makar seperti itu, yang berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa dan kesigapan rakyat dan pemerintah RI,  berhasil digagalkan. Seperti DI/TII di Jawa Barat, PRRI/ Permesta di Sumatera Barat, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, atau yang terbesar G30S/PKI yang berpusat di Lubang Buaya, Jakarta. Begitu pula di masa pemerintahan Presiden Soeharto, ada upaya makar yang bernuansa separatisme seperti GAM di Aceh dan OPM di Papua.

Namun yang mungkin dilupakan oleh pemerintah adalah bahwa propaganda terus menerus nan berkesinambungan yang dilakukan oleh para konseptor makar ini berpotensi besar bisa mencuci otak masyarakat dan menjadikan mereka sebagai pengikutnya. Dengan semakin besarnya jumlah masyarakat yang menjadi pengikutnya, maka semakin besar pula  kekuatan para konseptor makar ini untuk mengimplementasikan konsepnya. Pada titik inilah selangkah lagi konseptor makar berubah status menjadi pelaku makar. Bahaya besar di depan mata telah mengancam kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Share:

Mengeja Filsafat

Mahasiswa yang hendak mempelajari filsafat tidak akan dapat memahami filsafat tanpa mempelajari sejarah filsafat. Pemikiran filsafat pada dasarnya merupakan sejarah pemikiran para filsuf, kita hanya akan dapat memahami pemikiran sang filsuf itu jika kita mengetahui pemikiran-pemikiran filsuf sebelumnya.
Sejarah filsafat barat terbagi dalam empat periode, yakni periode yunani kuno, abad pertengahan, modern, dan kontemporer (abadke-20dan21).


Filsafat Yunani Kuno (600 SM-500 SM).
Filsafat Yunani dimulai sejak abad ke-6 SM. namun, sebelum lahirnya filsafat telah ada beberapa kondisi yang perlu kita ketahui, yaitu mitologi, kesusasteraan, pengaruh ilmu pengetahuan dan kehidupan politik.


Filsafat Abad Pertengahan (400 – 1500 M).
Ini adalah zaman dimana filsafat sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi ajaran agama (the philosophy as a hand maiden of theologi). Sejauh mana filsafat bias melayani teologi, bisa diterima. Namun, filsafat yang dianggap bertentangan  dengan ajaran agama dan gereja, ditolak. Banyak buku-buku filsafat yunani kuno ditemukan kembali di zaman ini, tetapi banyak yang diberangus, karena dinilai pemikiran kaum kafir, zaman  ini sering dinamakan Abad Kegelapan Filsafat.
Ciri – ciri filsafat abad pertengahan antara lain : banyak membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keyakinan (iman) dengan rasio, keberadaan dan kesatuan Tuhan, teologi dan metafisika ,dan persoalan-persoalan epistemologi (universal dan individual ).
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa, yaitu masa Patristik dan masa Skolastik (Skolastik Awal, Puncak, dan Akhir).


Masa patristik (para pemimpin gereja)
Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir yang menimbulkan banyak beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat yunani dan ada yang menerimanya.
Bagi mereka yang menolak, alasannya karena beranggapan bahwa mereka sudah mempunyai kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti filsafat yunani. Bagi mereka yang menerima beralasan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran (firmanTuhan), tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berpikir).


Masa Skolastik
Skolastik (school) berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Filsafat skolastik dapat berkembang dan tumbuh karena, Faktor Religius, keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius. Faktor ilmu pengetahuan, pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran.
Skolastik Awal (800-1200). Pemikiran filsafat Patristik mulai merosot.
Skolastik Puncak (1200-1300). Disebut sebagai masa berbunga, ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo.
Skolastik Akhir (1300-1450). Ditandai dengan rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan stagnasi (kemandekan).


Filsafat  Modern (1600-1900).
Filsafat modern berawal pada abad ke-16 Masehi, setelah terlebih dahulu dimulai oleh Gerakan Renaissance dan Humanisme di Eropa Barat (1300-an -1600). Gerakan ini merupakan gerakan atas kekuasaan gereja. Menurut gerakan ini, manusia pada prinsipnya merupakan pusat dari alam semesta, sehingga memiliki kebebasan untuk mencari kebenarannya sendiri. Pada  zaman ini  banyak filsuf berpegang teguh pada pendirian bahwa manusia pada hakikatnya bukan sebagai viator mundi (penziarah  dimuka  bumi), melainkan sebagai vaber mundi (pekerjaan atau pencipta dunianya). Manusia harus mencari sendiri kebenaran, bukan bersandar pada ajaran yang telah diberikan oleh gereja dan agama.
Pada masa ini dipandang sebagai sumber pengetahuan secara alamiah yang dipakai manusia yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Maka pada abad ini timbul dua aliran yang bertentangan yaitu Rasionalisme dan Empirisme.
Aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal atau rasio, hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal lah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan mutlak.  Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber  pengetahuan, baik pengalaman batiniah maupun lahiriyah.


Filsafat Kontemporer (1900-dewasa ini).
Filsafat kontemporer ditandai oleh variasi pemikiran filsafat yang sangat beragam dan kaya, mulai dari analisis bahasa, kebudayaan, kritik sosial, metodologi (fenomenologi, heremeutika, strukturalisme), filsafat hidup (eksistensi), filsafat ilmu, sampai filsafat tentang perempuan (feminisme).ciri lainnya ditandai dengan profesionalitas disiplin filsafat.


Share:

Kebenaran

“Jangan berbicara masalah kebenaran jika kamu belum punya akal..jangan berbicara masalah keyakinan jika kamu tidak punya hati, karena kebenaran dan keyakinan sumbernya dari akal yang sehat dan hati yang suci” -Abdul MM.-

Dari jaman nenek moyang sampai sekarang orang-orang sering bertanya apa itu kebenaran dan sebagian besar orang mencarinya dan memunculkan argumentasi tentang kebenaran dengan berlandaskan teori-teori dari berbagai sisi keilmuan, dan seringkali ada sebagian orang berteriak dengan lantang “saya sudah menemukan kebenaran!!” walaupun kebenaran yang dia temukan belumlah tentu di anggap benar oleh sebagian yang lain.

Sampai sekarang arti “kebenaran” itu tetaplah abstrak dan seringkali dalam prosesnya menyebabkan konflik horizontal karena semua orang sama-sama mempunyai versi “kebenaran” masing-masing. Maka dapat dikatakan bahwa kebenaran adalah hal yang bersifat subjektif dan majemuk.

Kebenaran itu seperti udara, kita dapat merasakan kehadirannya namun tidak mampu melihatnya dengan nyata bentuknya. Mungkin memang Tuhan menciptakan kebenaran sengaja untuk diperdebatkan dan diperselisihkan oleh manusia.

Ketika kita berbicara masalah kebenaran tentu akan berbading lurus dengan keyakinan dalam artian semakin kita merasa benar tentang sesuatu maka kita akan semakin yakin dan meyakini tentang sesuatu itu.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah darimana sumber kebenaran dan keyakinan?? apakah dari hati atau dari akal?? (dan sampai sekarang belum ada bidang keilmuan apapun yang menjelaskan secara pasti dimana letaknya hati apakah di liver atau jantung atau dibagian tubuh yang lain, akalpun demikian apakah memang adanya di otak atau tempat lain) dan kembali saya menyerahkan semua jawabannya kepada anda semua.

Akan tetapi satu hal yang harus digaris bawahi sejahat-jahatnya manusia apabila ia akan melakukan kejahatan ia tahu persis bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.
Paragraf terakhir ijinkan saya mengutip argumentasi seorang teman pada blognya yang berisi seperti ini :

“Apakah kebenaran itu? Apakah yang kaulakukan selama ini sudah benar? Apakah yang kau yakini itu benar? Semuanya hanya berupa jalan yang bercabang dua. Yang harus dipilih adalah jalan yang kiri atau yang kanan. Karena dikiri adalah jalan yang benar dan yang kanan adalah jalan yang betul. Semuanya terserah pada kata hati mu karena kata hatimu adalah jawaban yang terbaik.”
Share:

Indonesia Dalam Peradaban Perut

"Rasa lapar mulai menyiksaku. Aku lemah, aku muntah beberapa kali. Suatu perasaan amat pusing menyambarku; aku berjalan terus dan tak mau memerhatikannya, tetapi perasaan itu makin lama makin kuat,” tulis Knut Hamsun, sastrawan Norwegia, dalam novel Hunger (Sult/Lapar), yang melambungkan namanya. Ia meraih Nobel Sastra 1920.

Hunger dianggap kritikus sastra dunia menawarkan cara pandang, penyajian bahasa, serta model penulisan yang detail dan khas. Tokoh novel ini, sang Aku, berusaha hidup sekuat tenaga, hingga menggadaikan seluruh barang yang dipunyai. Bahkan, menggadaikan selimut milik teman demi membeli makanan. Tokoh Aku, merupakan penulis yang sedang berproses menggapai kematangan.
Knut Hamsun kecil hidup dengan perut lapar dan bekerja membantu pamannya. Ia tak boleh pulang karena harus bekerja keras. Demi mengunjungi keluarga, Knut memotong salah satu jari kakinya agar pamannya iba. Jejak kepedihan terekam utuh di setiap episode hidupnya.
Lapar yang diderita tak hanya dirasa dengan perut kosong dan haus. Knut merasa terbenam lumpur pekat kemiskinan. ”Aku sendiri merasa bagaikan suatu serangga kecil yang sedang sekarat, di dalam cengkeraman kebinasaan dalam dunia yang sudah sesat ini,” ungkapnya.

Kritik pada modernisme
Dibaca dalam konteks kini, kisah Knut Hamsun menampar manusia modern yang hidup dan ambisinya melulu mengejar kebutuhan biologis. Sekadar urusan perut. Satu naluri purba yang membesar dan mendominasi, membentuk semacam adab yang tak hanya menenggelamkan masyarakat pada hasrat dan nafsu badaniah saja, tetapi juga —dalam kasus di negeri ini —menghadirkan elite yang sibuk dengan pragmatismenya.
Elite seperti itu tak sempat memikirkan hal lain—yang bersifat visioner atau holistik—kecuali sekadar proyek, politikus meng-”obyek”-kan dana negara, pengusaha lupa tanggung jawab sosialnya, akademisi rebutan kuasa, atau agamawan hanya silat lidah. Rakyat kebanyakan? Hanya untuk hiruk pikuk kebutuhan seputar perut: mengonsumsi semua hasil kebudayaan yang hanya memuaskan hasrat-hasrat purbanya yang badaniah.

Perut sebagai energi
Tanpa proses produksi seimbang, ekonomi kapitalistik hanya akan menghadirkan masyarakat konsumer. Jean Baudrillard (2005) menyebutnya masyarakat kapitalis mutakhir. Theodor Adorno menyebut sebagai ”masyarakat komoditas” (commodity society). Bagi negeri ini, dua terma itu tampaknya kontradiktif. Di satu pihak benar, kita tenggelam dalam hidup yang difalsifikasi ke dalam komoditas. Di lain pihak, kita sama sekali belum mencapai yang disebut Baudrillard sebagai the late capitalism.
Mungkin inilah ironi adab mutakhir kita. Sebagai masyarakat atau bangsa, kita menerima adab itu sebagai akibat. Namun, kita tak pernah mengetahui atau mengalaminya sebagai sebab.
Tak mengherankan bila masyarakat juga elitenya, seperti tak mengerti yang sedang terjadi, yang mereka lakukan sendiri. Ia kehilangan orientasi.
Itu terjadi dalam seluruh tingkat dan dimensi kehidupan. Pada pendalaman spiritual, misalnya, manusia Indonesia kesulitan memahami dan ”mengalami” agama sebagai jalan meneguhkan eksistensinya secara utuh. Ia berhenti pada slogan dan jargon skriptural. Makna substansial dari agama tersingkir di sudut-sudut perpustakaan, terpencil, teralienasi.
Perut, mungkin hanya simbol. Tak hanya untuk manusia, tetapi kehidupan itu sendiri. Walau posisinya desisif sebagai penggerak hidup atau kebudayaan, ia bisa menjadi ancaman bahkan bencana, ketika kita membiarkannya menjadi makhluk liar. Menjadi monster yang siap melahap (hidup) kita sendiri.
Share:

No Big Deal

Kamu tahu bagaimana rasanya?
Berusaha ratusan kali tapi tak pernah dipercaya.
Diminta melakukan semua tapi dianggap angin lalu saja.
Apa karena kesalahan itu?
ya karena kedekatan dengan semua orang itu?

apa kamu pernah berfikir sekali saja?
Saat engkau bertanya maka kujelaskan detailnya
alasan-alasan akan perbuatan itu
dan yang kuterima hanyalah hening dari mulutmu
jadi buat apa aku berkata segala hal itu? Cuma untuk ego mu kah semua itu?

ya.. aku tau aku bajingan
Orang tengik banyak lagak tak tahu diri
yah aku paham hal itu
engkau tanya kenapa aku tak pernah berusaha lebih?
Dan aku tertawa didalam hati
tertawa krn engkau sendiri yang tak pernah percaya akan usaha itu
jadi aku harus bagaimana lagi?

aku tau pula aku orang bodoh
tak pandai menjelaskan semuanya.
Mungkin itu pula kenapa engkau selalu membisu tak berbicara
diam dengan semua yang ada

tak bisa memilih yah?
tak pernah serius yah?
Slalu menganggap semuanya sama yah?

So be it dear..
lelah sekarang aku berusaha untuk orang-orang sepertimu
lelah pula aku berusaha meyakinkanmu
kalau memang karena latar belakang itu aku tak berhak untuk kata-katamu tak apa
no big deal..
mungkin untuk sekali saja aku harus benar-benar menjadi orang "jahat"
seperti yang kau tuduhkan padaku
melalui sikapmu
melalui bisumu
mungkin itu yang kau mau..tak tahulah aku..

melelahkan..
sungguh-sungguh melelahkan untuk bertahan..
Share:

Believe Me

Setidaknya saat ini aku sudah yakin
Untuk mengutarakannya padamu
Tentang apa arti “rasa”
Yang mulai kugali kembali dengan penuh harap
Saat kau utarakan rasamu itu padaku

Jujur kukatakan
Dulu aku pernah merasakan sakit, hingga aku menjadi kelu
Tidakkah terlalu berlebihan
Bila aku memintamu datang dan membilaskannya untukku
Agar jantungku dapat berdegup kembali saat aku beranikan menggenggam tanganmu

Aku bukan seseorang yang sempurna
Namun aku ingin sempurna untukmu
Dan menjadi luar biasa karenamu

Kata-kata ini tidak mungkin dapat kau rasakan
Jika masih ada ragu dihatimu
Katakan ragumu, aku akan yakinkan itu
Jika masih ada tanya dibenakmu
Tanyakan padaku aku akan jujur menjawabnya
Dan terimalah apa adanya

Karena aku sudah memantapkan diri ini
Untuk memulai nuansa baru bersamamu
Menghadapi warna warni hidup ini
Berbijak dalam setiap langkah bersamamu

Lalu kucoba meraba dan bertanya dalam hati
Pantaskah aku ucapkan janji jika kau tak disisi?
Mampukah kau berjanji padaku, bahwa kita BAHAGIA bila kita bersatu?
Katakan padaku saat ini atau tidak sama sekali..
Karena aku akan menghilang dari jiwamu
Jika semua untaian hati ini tak berarti bagimu..
Share:

Mau Pintar Kok Mahal

Pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia memandang adanya perbedaan kelas dalam hal biaya pendidikan. Lembaga pendidikannya pun dibeda-bedakan sesuai dengan kualitas yang berpengaruh kepada biaya pendidikannya dalam semua jenjang pendidikan. Masalah yang menyangkut biaya pendidikan di Indonesia dalam berbagai jenjang adalah pendidikan yang berkualitas berarti mahal biaya pendidikannya. Masalah ini menyebabkan masyarakat yang dirasa tidak mampu tidak dapat mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan yang berkualitas sehingga masyarakat kurang mampu hanya dapat mengenyam pendidikan yang kurang berkualitas di lembaga pendidikan biasa. Seharusnya pendidikan yang berkualitas di Indonesia itu berlaku untuk seluruh warga negara tanpa terkecuali bukan hanya golongan-golongan atas saja. Padahal Pendidikan di Indonesia merupakan Hak asasi yang harus dipenuhi dari lembaga atau institusi yang menyelenggarakan pendidikan yang diberikan secara merata. Mengingat pentingnya pendidikan untuk semua warga, sehingga posisinya sebagai salahsatu bidang yang mendapat perhatian serius dalam konstitusi Negara kita, dan menjadi salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu Negara dalam hal ini pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan secara murah dan bahkan gratis untuk masyarakatnya. Banyak faktor penyebab mahalnya biaya pendidikan akibat kebijakan lembaga pendidikan ataupun pemerintah yang harus ditangani agar terjadinya pemerataan pendidikan di Indonesia. Dampaknyapun sangat serius bagi kualitas SDM di Indonesia sehingga harus adanya kebijakan atau tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah biaya pendidikan yang tidak merata ini.

Penerapan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada yaitu upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS ditandai dengan adanya unsur pengusaha. Dalam hal ini pengusaha memiliki modal yang lebih luas dan besar. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, pengusaha mengontrol sekolah dengan melakukan segala pungutan uang selalu berkedok, atsa nama sesuai keputusan Komite Sekolah. Namun, pada implementasinya ia tidak transparan karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Munculnya sekolah unggulan, sekolah plus, Sekolah Standar Nasional (SSN) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sekolah dapat leluasa meminta sumbangan ke wali murid berkedok untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun SBI akhirnya dihapus berkat keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pada pensatusan sekolah ini terjadi diskriminasi antar sekolah dimana murid yang berasal dari sekolah inilah yang mudah diterima di perguruan tinggi negeri dan sekolah-sekolah yang standar sangatlah susah menembus perguruan tinggi negri. Wajar saja karena sekolah yang mempunyai status unggulan mengenakan biaya pendidikan yang setimpal dengan kualitasnya dan banyak dihuni oleh orang yang punya uang saja. Di sisi lain orang yang tidak mampu tersisihkan dalam hal pendidikan di lembaga berkualitas, padahal banyak dari mereka mungkin memeiliki potensi yang besar dalam pendidikan.

Adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Lembaga atau Institusi yang bertanggung jawab pada masalah biaya pendidikan adalah pemerintah, masyarakat atau pihak yang menyelenggarakan pendidikan itu sendiri. Dalam UUD 1945 pasal 36 jelas disebutkan tentang masalah tersebut. Pada ayat 1 disebutkan biaya penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi tanggungjawab pemerintah. pada ayat 2 disebutkan biaya penyelenggaraan kegiatan pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi tanggungjawab badan/perorangan yang meyelenggarakan satuan pendidikan. Kemudian pada ayat 3 disebutkan bahwa pemerintah dapat memberi bantuan kepada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam uraian diatas bukan berarti biaya pendidikan dibebaskan dan di tanggung semuanya oleh pemerintah, tetapi untuk yang ingin mengenyam pendidikan tetapi juga harus disertai dengan tanggung jawab dari pihak masyarakat dalam hal ini khususnya keluarga yang berkewajiban membayar biaya pendidikan. Namun, karena adanya wajib belajar di Indonesia sampai sekolah menengan Pertama (SMP) maka pemerintah seharusnya bertanggung jawab penuh dalam menangani biaya pendidikan sampai beres wajib belajar itu dengan biaya gratis. Wajib belajara diselenggarakan sesuai dengan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 bahwa ketentuan wajib belajar di negara kita sampai pada sekolah menengah tingkat pertama.

Sebenarnya yang faktor dapat menjamin masa depan adalah pendidikan yang berkualitas. Seharusnya pendidikan berkualitas di negara indonesia diselenggarakan di semua lembaga pendidikan tanpa terkecuali dan berlaku untuk seluruh warga negara. Sejatinya seluruh warga negara mempunyai hak atas pendidikan yang berkualitas, tetapi kenyataannya hanya golongan tertentu sajalah yang dapat menikmati pendidikan berkualitas tersebut sehingga banyak orang yang kurang mampu hanya bisa menikmati pendidikan yang biasa saja. Hal tersebut tentunya sangat berdampak terhadap kualitas SDM di Indonesia, sekarang saja SDM Indonesia tidak merata atau tidak adanya keseimbangan antara yang memiliki kualitas skill tinggi dan yang sebaliknya. Dengan hal tersebut output dari dunia pendidikan untuk bangsa Indonesia masih sedikit untuk yang benar-benar berkualitas. Seharusnya jika semua warga negara yang masih dalam tahap mengenyam pendidikan diberikan pendidikan berkualitas juga. Lama kelamaan bangsa Indonesia akan terpuruk jika hal ini terus terjadi jika dibandingkan dengan negara tetangga saja Indonesia masih kalah dalam hal output pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut jelas di sebabkan karena adanya kualitas pendidikan yang belum memadai karena biaya pendidikan yang mahal juga.
Share:

Butuh Waktu Seumur Hidup Untuk Memahami kata Cowok Brengsek


Gue awali dari yang paling mainstream atau yang paling sering dibahas orang-orang di sosmed. Kita semua pasti sudah hapal dengan contoh kalimat, “Kalau sudah gagal jadi ganteng, maka jadilah cowok yang lucu.” Atau, “Kalau sudah gagal jadi cowok mapan, jadilah cowok yang lucu.” Tapi buat gue, cowok lucu itu levelnya sudah di atas cowok ganteng dan mapan :D

Cowok dengan keuangan mapan dan dengan muka yang tampan, sudah jelas diinginkan setiap cewek dan sudah sangat jelas dapat datang dan pergi sesuka hati di kehidupan cewek. Bahkan, 6 dari 10 cewek sudah tahu kalau cowok tipe ini bisa datang dan pergi sesukanya, tapi 6 cewek ini ya juga tetep mau dipacari terlepas dari konsekuensinya. Cowok tampan dan mapan 99% tidak punya kesulitan untuk pedekate dan melakukan finishing. Tapi bagaimana cowok dengan muka pas-pasan namun lucu, kayak gue? ;)

Dengan kemampuan membuat tertawa, cewek-cewek bisa lupa kalau cowok yang buat dia ketawa ini nggak ganteng, belum mapan, atau pun nggak romantis. Kasian banget ya. :D Gue sendiri punya pengalaman menarik dari cerita temen gue yang punya pacar cuma karena bermodal lucu. gini cerita dari temen gue itu "Di akhir kencan, sewaktu pulang, bilang gini sambil menembem-nembemkan pipinya tepat di depan mata temen gue, "Kamu itu biasa aja Donk, tapi kok aku seneng banget ya di deket kamu, jadi pengin ngobrol terus. Hehe." Bahkan di kencan kedua, ceweknya yang bayarin semuanya, dari makan, sampai parkiran. :D Bahkan dia sempat mau bayarin uang SPP kuliah temen gue itu, namun dengan cepat temen gue tolak." Ini sudah dapat disebut kejadian luar biasa dan sangat anomali. Mungkin dari 100 cewek, hanya ada 0,25 cewek yang mau bayarin kencan. =D

Lalu, gue juga melihat bahwa menjadi cowok lucu adalah hal paling romantis yang dapat dilakukan secara sederhana oleh seorang cowok di hidup ini. Bahkan hampir effortless. Sangat menyenangkan ketika melihat cewek tersenyum, tertawa, sambil melintir-lintir rambutnya, atau menembem-nembemkan pipinya. Semua cowok lucu itu basic-nya romantis. Kalau dia ngelucu, itu juga tujuan bikin kamu senyum, proses kenapa kamu bisa senyum, itulah romantis :*
Brengsek abis..

Buat gue, cowok lucu dan cowok cool adalah api dan air. Ketika cowok lucu adalah simbol kehangatan, keceriaan, maka cowok cool adalah kebalikannya. Ya, simbol kemisteriusan dan penasaran. Sampai sekarang gue nggak bisa lupa adegan Rangga nyambit pensil dengan cool ke Cinta. Dian Sastro disambit pensil dan akhirnya jatuh cinta! Kalau gue yang melakukan hal cool tersebut, pasti ending-nya gue dikutuk jadi bohlam kandang. Redup-redup gimana gitu :D

Kalau cowok lucu identik dengan ketidak gantengan, maka cowok cool ini erat kaitannya dengan ketampanan. Jadi, kalau kamu sudah tidak masuk kualifikasi cowok ganteng, jangan sekali-sekali bersikap cool ke cewek. Bayangin kalau Budi Anduk ditanya cewek, “Budii, apa sih definisi cinta menurut kamu?” Lalu Budi menjawab, “Berak.”

Budi Anduk pasti udah dikutuk jadi gayung martabak.

Tapi kalau Nicholas Saputra yang jawab gitu, toh cewek-cewek tetep ngantre buat disambit pensil.
Gue pernah coba sekali menjadi cowok yang cool. Yang cara ngomongnya sangat tertata, sesuai EYD, pelan, suaranya berat, dan menusuk kalbu. Waktu itu temen cewek gue nanya, “Kita mau ke mana, Kaa?” Terus gue jawab dengan pelan, berwibawa, suara bindeng kayak orang flu gimana gitu,

“Sebal sekali dihujani pertanyaan ‘kita mau kemana’ olehmu. Barangkali kau tak tahu, setiap bertemu denganmu, aku sudah sampai pada tujuan :D”

Dia terdiam.

“Jawaban apa yang ingin kau dengar dari seseorang yang sudah sampai tujuan? Kau ingin aku pergi ke mana lagi ketika kau adalah tujuan akhirku?” Gue kembali menambahkan.

Brengsek abis Guee :D

Ngomong-ngomong soal baper atau dibawa perasaan, gue termasuk cowok yang suka baper untuk hal-hal yang mungkin orang lain tidak akan baperin di hidup ini. Salah satu hal yang palin gue baperin di hidup ini adalah, saat kelingking kaki gue kepentok kaki meja. Sakitnya bener-bener membuat air mata berlinangan. Sakitnya bener-bener melibatkan perasaan. Sakitnya bener-bener membuat gue merenungi makna di hidup ini.. Kenapa ada sang hitam bila putih diciptakan? Kenapa bisa merasa kehilangan sebelum sempat memiliki? Kenapa harus belajar dari pertemuan tentang bagaimana indahnya mengawali sebuah perpisahan? Dan kenapa kaki meja ingin sekali mentokin dirinya ke kelingking gue? Kenapaa.. Kenapaaaa :'(

Langit tetap tidak mendengar..

Mungkin apa yang gue rasakan ketika kelingking kaki gue kepentok meja, itu sama seperti hati yang berdebar-debar saat kita hendak menggenggam tangan satu sama lain, dan hancur berantakan setelah tangan si dia nolak. :'( Gue sering banget ngeliat cowok yang air matanya jatuh sesaat setelah tertolak oleh cewek yang di sayanginya. Persis seperti air mata gue yang jatuh sesaat setelah kaki meja mencium kelingking gue.

Ketika cewek bisa tersenyum, tertawa, bersedih, dan menangis di sekali kesempatan, sudah tentu si cowok ini brengsek sekali. Dan ketika membuat baper cowok yang sampai menitikkan air mata ketika tertolak,

Gila. . . .
Brengsek abis..

Gue ngerti perasaan orang yang main dota ketika darah lawannya tinggal sekali garuk, namun ketika mau digaruk atau di-ulti, lawannya tiba-tiba ngilang  dan dia nggak punya gem atau apapun yang bisa ngeliat hero yang ngilang. Gue paham, orang yang gagal nge-kill ini pasti merasa kehilangan. Ditinggal pas lagi di saat genting, ditinggal pas lagi semangat-semangatnya ngejar, duuuuuh.

Gue ngerti perasaan mahasiswa yang di saat lagi butuh bimbingan dari dosbing, lalu tiba-tiba dosennya ngilang. Gue ngerti perasaan mahasiswa yang mau ngejar revisi buat cepet disidang, tiba-tiba dosennya ngilang, katanya ada seminar di luar negeri. Gue juga ngerti perasaan mahasiswa yang butuh pendamping wisuda, namun di saat wisuda, pacarnya malah ngilang. Ternyata nemenin wisuda orang lain :D
Gue juga ngerti perasaan orang yang lagi deket-deketnya, yang lagi romantis-romantisnya di-chat, tiba-tiba besoknya dia ngilang tanpa kabar. Rasa kehilangannya persis kayak kehilangan flesdisk yang isinya kopian film korea, sadis . . .
Rasa kehilangan yang prematur. Sudah merasa kehilangan sebelum sempat memiliki adalah brengsek yang paripurna.

Kalau sudah berhasil jadi cowok lucu, cowok cool, atau cowok yang suka menggandeng tangan, cobalah jadi cowok yang suka ngilang. Sebab hidup ini adalah perjalanan dari kehilangan satu ke kehilangan lainnya. Sebab tiada tempat berteduh dari segala yang  pergi dan dari setiap yang hilang, Gilaaa. . . . Brengsek banget Gue.

“Perjuanganmu lebih mudah, kau hanya kehilangan aku. Perjuanganku lebih sulit, aku kehilangan dirimu, dan diriku yang telah kuberikan pada tubuhmu.”
Nggak ada obat,
Brengsek abis..


Dan ini yang terakhir menurut gue, ini adalah brengsek yang paling ultimate. Tingkat bapernya bahkan melebihi baper ketika kaget saat diklakson tronton. Brengsek yang sejati lahir dari sini :D

Sudah pernahkan kalian sampai di fase dua tubuh yang sudah satu, namun tetap tidak bisa disatukan oleh ikatan resmi? Rasanya itu seperti sudah disakiti karena kelingking kepentok meja, namun tidak bisa membalas menendang meja.

Sudah pernahkah kalian sampai pada fase ditanya oleh kekasih, “Kamu pindah Fakultas yaa..” Namun dalam hati kalian menjawab tidak bisa. Itu rasanya sama kayak ketika naik motor di jalan, terus tiba-tiba dari belakang diklakson sama tronton. Rasa kagetnya itu benar-benar melibatkan perasaan. Bahkan saking kagetnya, bukan mulut yang menjerit, namun hati. Mau membalas nglakson, bunyinya cuma “Teeet”. Sebuah bunyi yang terdengar cemen sekali di tengah belantara jalanan ibukota. Mau menjawab pertanyaan, “kamu pindah Fakultas yaa..:” dengan iya, tapi hati berkata lain. Orang tua juga berkata lain.
Berat sekali beban di hidup ini :|

Gue sudah cukup banyak melihat cewek-cewek yang hancur karena gagal bersatu dengan cowoknya akibat dipisah jarak yang sangat jauh dan tidak bisa diukur seberapa jauhnya. Ya, jarak tak kasat mata yang terbentang di antara kita, sebuah perbedaan.

Kalau kamu sudah berhasil jadi cowok yang lucu, cool, suka menggandeng tangan, dan ngilang-ngilangan, cobalah jadi cowok yang beda. Dan lihatlah air mata perempuan yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya, sebuah air mata yang dipenuhi oleh baper karena gagal bersatu.

Parah,
Brengsek abis Gue..

=======

Apakah kamu dapat menyimpulkan bahwa tulisan gue di atas bisa disebut panduan? Apakah mencerahkan?
Nggak, kan?
Benar sekali. Tidak ada satupun panduan untuk menjadi cowok brengsek. Sebab kita sudah terlahir sebagai cowok yang brengsek.
Brengsek by default.
Setiap hal yang cowok lakukan dan berakhir tidak sesuai dengan keinginan cewek, di sanalah kata brengsek lahir.

Hidup cowok brengsek!
Share:

Menunggu Dengan Melupakan Adalah Dekat, Sedekat Jantung Dengan Detaknya


Ya, satu kata kunci yang dipakai jutaan umat manusia ketika ingin bangkit dari kegagalannya. Termasuk dalam urusan cinta, melupakan digadang-gadang sebagai satu-satunya cara untuk bisa bangkit dari kekecewaan.

Tapi apakah nyatanya akan benar-benar melupakan?
Tidak.

Begini ceritanya, gue pernah baca di artikel kesehatan dan psikologi bahwa ingatan manusia dibagi menjadi dua bagian, short term memory (STM) dan long term memory (LTM). Short term memory menyimpan informasi-informasi yang baru saja diterima oleh otak dan jangka waktu diingatnya tidak panjang. Untuk memperpanjang jangka ingat suatu informasi di otak, kita perlu mengucapnya berulang kali, membacanya secara seksama, atau menulisnya kembali sebagai catatan. Hal-hal tersebut dinamakan rehearsal atau lebih sederhananya disebut, menghapal.

Ya, hal-hal sederhana di atas sudah sering kita lakukan sejak kecil, sejak bersekolah di tingkat yang paling dasar sekalipun, kita selalu diajari bagaimana caranya menghapal dan mengingat banyak hal. Informasi yang kita terus olah dengan kembali membacanya, kembali mengucapkannya, dan menulisnya sebagai catatan, dianggap oleh otak menjadi informasi yang penting dan akhirnya “naik kelas” menjadi long term memory. Itulah sebab kita tak akan lupa nama ibu, nama ayah, alamat tempat tinggal, tanggal jadian, tanggal gebetan putus dengan pacarnya, hari di mana nembak terus ditolak, dan masih banyak lagi.

Walau jatuh cinta tidak mampu diproses oleh otak, melainkan melalui reaksi kimia berupa hormon, toh pada akhirnya reaksi-reaksi kimia yang terus-menerus akan menjadi long term memory. Ya, akan disimpan sebagai ingatan jangka panjang. Itulah mengapa agama selalu mengingatkan kita kepada kebaikan, karena laut, awan, gunung, hujan, dan pelangi hanya akan mengingatkan kita kepada mantan.

Dari kecil selalu diajari mengingat, lantas begitu putus cinta malah berusaha melupakan? Aku pandai mengingat, kamu pandai membuat kenangan, lantas ketika aku tidak bisa melupakan, siapa yang harus disalahkan?

Saat ujian, kita selalu berusaha mengingat pelajaran yang telah dipelajari selama satu semester penuh, atau bahkan yang baru dipelajari malam harinya. Tapi kenapa saat ujian berlangsung kita tidak berniat untuk melupakan? Takut tidak bisa mengerjakan ujian? Bukannya putus cinta atau kecewa juga merupakan ujian? Kenapa kita bersikeras untuk melupakan? Apa karena kita hanya ingin lari dari ujian?

Atau mari kita tengok mereka-mereka yang mendekam di rumah sakit jiwa atau yang punya gangguan mental. Dari wajah bingung mereka, kita akan mampu tangkap bahwa mereka tengah berjuang keras untuk satu hal: mengingat. Ya, mereka berjuang untuk mengingat siapa yang mereka sayangi, siapa yang mereka benci, dan siapa sebenarnya diri mereka.  Suatu hal yang sekarang kita punya, yang nyatanya kau perjuangkan, untuk aku yang ingin kau lupakan.

Pada akhirnya, melupakan hanya menjadi kiasan. Tak ada yang benar-benar mampu melupakan seperti yang terjadi pada mereka yang kehilangan ingatan. Kejadian tak bisa melupakan sangat mudah ditemui pada perempuan. Seperti yang sudah gue tulis di atas, cinta merupakan proses kimia yang melibatkan hormon. Seperti hormon dopamine, serotonin, endorphin dan masih ada juga yang lain. Hormon-hormon itu yang membuat kita senang, sedih, kangen, galau, horny, dan sebagainya.

Dan yang paling fatal adalah hormon oksitosin. Hormon yang menyebabkan seorang ibu akan selalu terikat dengan anaknya, hormon yang dihasilkan seorang ibu dengan kadar yang sangat besar ketika melahirkan. Hormon yang juga dikeluarkan perempuan dengan kadar yang tak kalah besar ketika berhubungan seks, setelah melakukannya, perempuan akan merasa terikat oleh pasangannya. Dari sanalah asal-muasal kenapa perempuan, menurut gue, adalah makhluk yang tidak tercipta untuk melupakan. Naluri mereka adalah mengingat, mengenang, walau pada akhirnya air matanya yang jatuh dan menggenang.

Buat gue, melupakan sebagai satu-satunya cara berpindah atau move on bukanlah menjadi cara yang paling baik, karena tiada yang benar-benar mampu melupakan. Kita diberi otak untuk mengingat, tanpa diberi tahu cara untuk menghapusnya salah satu bagiannya saja.

Bersikeras kita saling melupakan, namun Tuhan tetap mempertemukan kita dalam ingatan.
Sekali lagi, melupakan adalah kias, hanyalah kata yang digunakan untuk memangkas kalimat-kalimat  panjang yang menghias proses berpindah. Soekarno pun telah jauh-jauh hari mengamini anggapan gue ini dengan kalimat mahsyurnya, “JAS MERAH, Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah.”



Sebab caramu memperlakukan kenangan, adalah caramu menghargai masa lalu.
Share:

Manusia Yang Sok Asik!!!!

‘Dari awal aku wes gak suka kamu jadi ketua, lebih baik kamu mundur dari ketua. Soale udah ada yang mau ganti posisimu, mundur secepatnya. Aku gak bakalan nyesel semisal musuhi awakmu!!’

Itu salah satu pesan singkat dari seseorang yang sekarang bener-bener musuhin gue, dia menganggap gue ini musuh bebuyutannya, nggak rela dia jika gue merasakan nyaman sedikitpun. Gue sih anaknya kalemb kalo cuma hal kayak gini mah, nggak terlalu ambil pusing.
Tapi gue heran aja sama tuh anak, perasaan dia kagak pernah ada setiap organisasi yang gue pimpin ada agenda, lucu semisal tiba-tiba tuh anak nyuruh gue untuk mundur dari ketua. Toh, kalo di itung-itung, nggak sedikit gue berkorban untuk organisasi ini, dibanding dengan tuuh anak. bukan maksud membandingkan, nyatanya memang kek gitu sih.

Musuh, satu kata yang berkonotasi negatif. Satu kata yang tak terelakkan dari kisi hidup manusia. Kerapkali ada, entah itu dimusuhi atau memusuhi sulit sekali membedakannya.
Karena orang yang dimusuhi merasa dimusuhi dan orang yang memusuhi pun merasa dimusuhi.
Islam, adalah agama yang rahmatan lil ‘alamiin. Selalu mengajarkan bagaimana cara bermuamalah (berinteraksi sosial) yang baik. Berkaitan dengan perselisihan maka Islam pun menuntun penganutnya untuk tidak saling bermusuh-musuhan, menghindari perselisihan dan saling memaafkan. Bahkan Rasulullah SAW pun tak lepas dari itu.
Namun, ada tuntunan dari beliau agar kita bersikap bijak menyikapi orang yang notebene memusuhi kita. Yaitu ketika Nabi berdakwah, banyak sekali yang menentang dakwah beliau. Salah satunya Abu Lahab dan istrinya. Tapi Rasulullah menghadapi orang-orang yang memusuhi dengan cara yang ahsan dan bijaksana. Bahkan seorang nenek buta yang begitu membenci Nabi pun setiap hari beliau beri makan, disuapi dengan penuh kasih sayang.
Tiga hari, adalah batas seorang muslim untuk tidak bertegur sapa saat bertikai. Melebihi itu,
jatuhnya dosa. Membahas tentang musuh, saya langsung teringat pada guru Hadits gue dulu sewaktu gue nyantri di Pati. Beliau bertanya, “Adakah di antara kalian di sini yang bisa menjawab, mengapa orang bisa bertengkar?”
Dalam satu kelas kala itu tak ada satu pun jawaban yang benar. Ada yang menjawab karena
marah, uang, pacar, emosi, dan lain-lain.
Guru Hadist gue pun membuka kunci jawaban. “Orang bisa bertengkar itu karena masing-masing diri merasa dirinya-lah yang paling benar.
Itu jawabannya.”
Jawaban guru Hadist gue itu benar juga. Kerapkali, orang-orang yang bertikai itu disebabkan karena merasa masing-masing diri sudah berada di jalur yang benar. Kalau saja salah satu mau mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu, maka sangatlah mungkin
pertikaian itu pun tidak akan terjadi.

Setan laknatullah, mengirim pasukan ke segenap penjuru dunia untuk menghancurkan
ukhuwah orang-orang beriman. Bermusuhan hanya akan meninggikan hati pelakunya, saling mencemooh, merendahkan, menghujat bahkan memfitnah satu sama lain.
Hati dan fisik bertolak belakang. Mengapa demikian? Orang yang saling memusuhi, tidak akan bisa menerima kebaikan apa saja dari orang yang dianggapnya sebagai musuh.
Karena hati yang tertolak.
Saat bertemu pun saling memunggungi satu sama lain. Inilah yang setan harapkan. Ada satu hal yang dilupakan oleh orang-orang yang saling bertikai, yakni, khamar itu haram, judi itu haram. Dan sebenarnya, bermusuhan pun haram dalam Islam. Namun, para pelaku kurang begitu mengindahkan hal ini. Sebab bermusuhan dianggap sah dan biasa-biasa saja bahkan dicap ‘lumrah‘.

Al Qur’an sebagai kitab panutan umat manusia, dengan gamblang melarang; agar tidak saling bertajassus atau mencari keburukan orang lain. Mengapa bermusuhan dilarang?, karena mereka yang bermusuhan seringkali melakukan hal ini. Mencari kekurangan lawan, mengejek, menghina, dsb. Apabila sang musuh melakukan kesalahan, melarat, nista dan kesusahan, maka itu dijadikan senjata untuk menyerang si musuh tersebut.
Astaghfirullah…
Sungguh, itu real perbuatan setan.
Hal semacam ini yang kurang dipahami mereka yang bertikai. Entah bertikai secara fisik
maupun non fisik. Kalau saja mau merenung sejenak.

Manfaat bermusuhan itu apa?
Apakah dengan memiliki musuh lantas itu sebuah prestice? Tidak sama sekali!
Sadarilah…
Bahwa bermusuhan adalah dosa yang tidak akan diampuni meskipun dengan istighfar (memohon ampun) kecuali dengan bertaubat dan berdamai. Bermusuhan hanya akan meninggikan hati dan menjerumuskan pada kesombongan serta dosa. Saling memaki, menghina, menghujat dan merendahkan. Sungguh akhlak yang tidak terpuji.
Tengoklah kembali uswattun hasanah kita Rasulullah SAW dalam berinteraksi. Sungguh, Nabi itu rendah hati, tinggi akhlaknya bukan tinggi hati. Untuk mereka yang saling bertikai; Berpikirlah sekali lagi manfaat bermusuhan itu apa? lalu bayangkan bagaimana jika musuhmu mati? Merasa menangkah? Nauzdubillah tsumma na’udzubillahi min dzalik.
Mencari musuh itu mudah, mencari orang yang mau mengajak kita ke surga itu yang sulit. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati-hati kita, dijauhkan dari permusuhan dan selalu dijaga agar terhindar dari tipu daya setan. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
Share:

Cukuplah

Aku yang Tiba-tiba Mendoakanmu
Bagiku, doa adalah bukti cinta yang paling murni dan sempurna
hanya itu yang bisa aku lakukan
sebagai bukti aku yang telah jatuh mencintaimu
Diam-diam aku mendoakanmu
menyelipkan namamu di sela segala permohonan
dalam sujud panjangku

Dengan malu-malu aku mengeja namamu
meminta kebahagiaan dan keselamatan untukmu
meski nyatanya aku tak benar-benar mengenalmu

Kini, aku tak lagi hanya menyebutmu di hadapan Tuhanku
tapi mulai mendoakanmu
dan mungkin akan terus mendoakanmu


Hanya satu hal yang tak mampu kuminta pada Tuhan; memilikimu
Aku takut Tuhan tertawa dan menganggapku bercanda
Lalu mengabaikan doa-doa baikku untukmu
Cukuplah aku tahu diri untuk tak pernah meminta satu hal itu
Share:

Melupakanmu Adalah Keniscayaan

Sebenarnya aku tak ingin mengingat-ingat lagi segala tentangmu, kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan saat masih bersamamu. Mengingatmu adalah sebuah kesia-siaan, membasahi luka lama. Melupakanmu adalah keniscayaan, sesuatu yang paling tak ingin aku lakukan, tapi harus. Ini rasanya seperti lelaki yang menjalani aborsi, memaksa sesuatu yang tidak mungkin bisa, bahkan jauh lebih berharga dari sesuatu keluar dari perutnya, meleburkannya menjadi darah-darah. Rasa sakitnya akan seiring menghilang dengan keringnya sisa-sisa darah dalam rahim.

Setelah aku tertolak olehmu, aku mengutuki diri sendiri. Aku tidak mengutuki nasibku, karena sama artinya aku mengutuk Tuhan. Dan aku tidak ingin menjadi sedurhaka itu dan membuat tumpukan dosaku semakin tak terkendali. Ini semua atas kesalahanku, dan bisa dikatakan kebodohanku yang masih saja aku pelihara. Aku benci diriku, tapi terlalu sayang untuk bunuh diri dengan cara konyol.
Share:

Tertolak

Awalnya aku beranggapan bahwa rasa ini adalah rasa yang sama dengan apa yang sedang kamu rasakan, namun ketika lisan ini berkata mewakili rasa yang bergejolak dalam dada namun bukan bahagia yang aku dapatkan melainkan rasa patah hati yang sangat mendalam.

Terkadang kejujuran dapat melukai perasaanmu namun akan mengakhiri rasa penasaran dalam hatimu, sehingga kamu dapat menentukan tujuan yang lebih jelas bukan tujuan yang hanya bersemayam dalam hayal.
Aku tidak menyesal dengan apa yang telah aku lakukan, justru aku merasa lega karena engkau telah berkata apa adanya walaupun hati ini merasa sedikit kecewa.

Sebelum aku mengatakan kata cinta padamu, aku sempat berdo’a kepada tuhan yang telah menciptakan bumi dan isinya agar jika engkau memang jodohku, maka dekatkanlah, namun jika engkau bukanlah jodohku maka berikanlah hati ini kelapangan.
Ungkapan bahwa cinta memang tidak selamanya harus saling memiliki ternyata memang benar adanya dan kini aku hanya bisa berdo’a agar kamu mendapatkan kebahagiaan yang tidak sempat aku berikan.

Perhatian yang kamu berikan, kedekatan selama kita bersama dan sunyum manis yang setiap hari kupandang ternyata bukanlah perasaan cinta yang selama ini aku rasakan.
Entah kenapa semakin aku berniat untuk menjauh dan melupakanmu, justru akal ini semakin memikirkanmu dan memaksa diri untuk mendekatimu.

Padahal jelas hati ini sakit karena kamu tidak membalas cintaku.
Share:

GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN KHOZINATUL ULUM BLORA

Profil Pondok Pesantren Khozinatul Ulum
Sejarah berdiri dan berkembangnya pondok pesantren Khozinatul Ulum

Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora berdiri berawal dari keprihatinan yang sangat besar serta kepedulian sosial dari seorang pengusaha H.Moch. Djaiz. Beliau melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata belum ada satupun lembaga pendidikan yang namanya pondok pesantren berdiri di tengah kota yang dikelilingi hutan jati. Padahal telah dimaklumi bahwa masyarakat di kota Blora dan sekitarnya sangat perlu mendapatkan penyuluhan, petunjuk dan bimbingan tentang ajaran Islam.

Keprihatinan dan kepedulian Bapak H. Moch. Djaiz tersebut seiring dengan keinginan seorang anak putrinya bernama Umi Hani‟ yang baru saja menyelesaikan studinya menghafalkan al Qur‟an 30 juz di pondok pesantren al Muayyad Surakarta yang diasuh oleh KH. Umar bin Abdul Manan, untuk dibuatkan sebuah pesantren walaupun sangat sederhana (Wawancara, Pengasuh PP Khozinatul Ulum Blora, 21 maret 2014).

Kemudian Bapak Moch. Djaiz dengan penuh semangat berusaha mencari calon suami yang sesuai dengan cita-cita putrinya tersebut, agar kelak dapat mengelola serta memanage suatu pondok pesantren yang dicita-citakan.
Alhamdulillah berkat pertolongan dan izin Allah SWT  serta  do‟a  restu  tiga  orang  ulama,  yaitu  KH. Muhammad Arwani dari Kudus, KH. Abdullah Salam dari Pati dan KH. Muhammad Sahal Mahfud dari Kajen Pati, keinginan tersebut terpenuhi dengan mendapatkan seorang menantu dari Jepara, yang bernama Muharor Ali, dan kebetulan juga ia baru menamatkan study non formalnya dari pesantren Yanbu‟ul Qur‟an Kudus di bawah asuhan KH. Muhammad Arwani. Setelah itu, beliau nawaitu membangun dan mendirikan pesantren dengan memilih Khozinatul Ulum sebagai nama dari pesantren ini. Nama tersebut dipiih berdasarkan pemberian dari seorang ulama‟ ahlu al Qur’an KH. Muhammad Arwani dari Kudus. Kata 'khozinah’ berarti tempat penyimpanan, sedangkan 'ulum’ berarti beberapa ilmu. Dengan nama tersebut diharapkan agar pesantren menjadi gudang atau tempat penyimpanan ilmu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat.

Dalam sejarah perkembangan awal pesantren Khozinatul Ulum, sistem pendidikan yang digelar hanya bersifat tradisional dengan mengacu pada sistem sorogan dan pengajian wetonan. Kemudian dalam perkembang
Selanjutnya, pesantren ini menggelar sistem klasikal dengan membuka sistem pendidikan formal maupun non formal.
Pondok    pesantren   Khozinatul Ulum Bloramempunyai prinsip berupaya dan berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan beberapa tujuan luhur yang menjadi cita-cita pondok pesantren dengan cara yang sehat dan dengan cara yang sebaik-baiknya yang pada intinya yaitu:
“Memelihara unsur-unsur lama yang baik dan menerima hal-hal dan unsur-unsur baru yang lebih baik”(Profil PP Khozinatul Ulum Blora Jawa Tengah, Buku Panduan edisi IV, 2000/200, hal: 2-3).
 
Tujuan pokok pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora, di antaranya yaitu:

Menyiapkan manusia muslim yang As-Sholih dan Al-Akrom yaitu menjadikan manusia yang paling mulia di sisi Allah yaitu dengan menanamkan ketaqwaan. Kemudian sholih adalah yang baik di sisi Allah dan baik di sisi masyarakat serta baik kehidupan agamanya dan kehidupan dunianya.
Pesantren mengatur dan merealisasikan keseimbangan antara beberapa ilmu syari‟at agama islam dengan ilmu pengetahuan umum dan teknologi modern. Dengan tujuan para santri dapat menyiapkan diri sebagai muslim yang tangguh, dapat menyesuaikan dengan masyarakat  melalui  perkembangan  ilmu  pengetahuan umum dan teknologi modern.
Memberikan bekal-bekal ilmu al qur‟an mulai dari bacaan hafalan, ilmu qira’ah dan sebagainya, dengan tujuan santri mendapatkan pengalaman sehari-hari, sehingga mereka layak dikatakan seorang muslim ahlul Qur’an yang sesungguhnya (Profil PP Khozinatul Ulum Blora Jawa Tengah, Buku Panduan edisi IV, 2000/2001, hal: 4-5).

Letak geografis pondok pesantren Khozinatul Ulum

Adapun letak pesantren tersebut yaitu di desa Kaliwangan kecamatan Blora atau tepatnya di jalan Mr. Iskandar gang XII/2. Letak pondok pesantren Khozinatul Ulum ini cukup strategis karena melalui jala raya jurusan Blora-Randublatung dan Blora-Banjarejo kurang lebih hanya 700 M ke arah selatan, di situ terpampang    papan identitas    yang menunjukkan lokasi pondok pesantren.   

Ditinjau  dari  kenyamanan  Kegiatan  Belajar Mengajar (KBM), pondok pesantren Khozinatul Ulum Kaliwangan Blora ini cukup memberikan ketenangan dan kesejukan. Hal itu disebabkan karena letaknya yang agak masuk kurang lebih 50 M dari jalan raya. Pondok pesantren Khozinatul Ulum ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 3215 M² dan berada dalam lingkungan Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah yang menjadi satu lingkungan, yang masing-masing gedung tersebut terdiri dari tiga lantai.

Adapun batas wilayah pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora adalah sebagai berikut:
Sebelah Barat berbatasan dengan dukuh Karkaran Jetis dan desa Sasak.
Sebelah Utara berbatasan dengan dukuh Ndukuan
Sebelah Timur berbatasan dengan desa Jenar
Sebelah Selatan berupa persawahan yang berbatasan dengan desa Kamolan (Wawancara, Pengasuh PP Khozinatul Ulum Blora, 21 Maret 2014).

Visi , Misi dan Tujuan pondok pesantren Khozinatul Ulum

Visi
“Menjadi lembaga dakwah, lembaga pendidikan islam dan sosial yang unggul serta terkemuka dalam mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa, guna mempersiapkan generasi bangsa yang unggul, sholih, mulia, berilmu tinggi serta ber-akhlaqul karimah”.

Misi
Membina dan mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam yang seluas-luasnya dengan semangat khidmah dan mauidzoh hasanah.
Mengawal, membela dan melestarikan aqidah dan nilai-nilai Islam ahlusunnah wal jama’ah
Menumbuhkan, mengembangkan dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan sesuai ajaran Islam ke arah kematangan berpikir, berakhlaq mulia dan integritas sosial yang tinggi serta memiliki kepribadian yang unggul.
Meningkatkan kualitas SDM guna mampu mendalami, menghayati, mengamalkan dan mengembangkan Islam secara utuh serta mampu mengelola lingkungan.
Menanamkan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai ketaqwa‟an dan akhlaq yang luhur, sehingga menjadi generasi bangsa yang unggul, sholih, mulia dan ber-akhlaqul karimah.

Tujuan
“Terciptanya kemaslahatan masyarakat, bangsa dan bernegara yang harmonis, sejahtera, adil dan makmur berlandaskan nilai-nilai keislaman guna mewujudkan kebahagiaan insan di dunia dan akhirat” (Wawancara Pengurus PP Khozinatul Ulum Blora, 24 Maret 2014).

Program-program Kegiatan di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum
Program pendidikan di pondok pesantren Khozinatul Ulum
Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora mempunyai berbagai program pendidikan baik formal maupun non formal, di antaranya yaitu:
Pendidikan al Qur‟an, yang meliputi:
Taman Pendidikan Al Qur‟an (TPQ), dengan menggunakan sistem metode praktis qiro‟ati dengan enam paket ditambah ilmu tajwid dan bacaan Ghorib. Metode ini diajarkan untuk usia anak-anak sampai SD.
Hafalan juz‟amma. Sistem belajar program ini dengan sorogan dan ditargetkan dalam jangka waktu satu tahun, santri hafal juz amma dengan fasih dan lancar.
Pengajian al-Qur‟an bin nadhor 30 juz untuk usia SLTP ke atas dan sistem belajarnya sama yaitu dengan metode sorogan.
Tahfidhul Qur‟an 30 juz bagi santri non pelajar.
Madrasah Diniyyah yang meliputi:
Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA).
Madrasah Diniyyah Wustho (MDW).
Madrasah Diniyyah „Ulya (MDU)
Madrasah Ibtidaiyyah (MI).
Madrasah Tsanawiyyah (MTs).
Madrasah Aliyah (MA).
Pengajian kitab-kitab salaf.
Materi ketrampilan
Seni baca al-qur‟an.
Seni hadroh (rebana).
Komputer
Menjahit, bordir dan sulam.
Tata boga.
Membuat parsel dan tas.
Kaligrafi.
Pelatihan kepemimpinan dan manajemen pembelajaran dan pelatihan-pelatihan lainnya (Laporan Triwulan II, PP Khozinatul Ulum Blora, 2013/2014).



Share: