Orkestra Angkara Murka

Yang kulihat hanya tanah lapang kosong dan tandus..
Yang kurasakan hanya tiupan angin kesengsaraan..
Aroma kematian..
Tangisan kelaparan..
Jeritan kesakitan..
Teriakan ketidakberdayaan..
Dari  jiwa-jiwa yang dikhianati kehidupan…

Aku berdansa di ujung jurang kegelisahan jiwa..
Aku menari ditepian lautan keresahan hati..
Aku berlari diantara tebing kegundahan rasa..
Aku berdiri diatas nyanyian ketiadaan arti..

Yang kulihat hanya tanah lapang kering kerontang..
Yang kurasakan hanya sapaan angin kedustaan..
Tetesan air mata..
Isakan tangis bayi..
Rengekan bocah kecil..
Korban janji palsu penguasa angkara murka..

Dunia bukan dunia lagi..
Alam bukan alam lagi..
Kehidupan bukan kehidupan lagi..
Manusia bukan manusia lagi..
Tuhan bukan tuhan lagi..
Firmannya bukan firman lagi..
Semua sabda hanya celotehan camar kelaparan…

Aku terjebak dalam symphoni orkestra angkara murka…
Share:

Tak Lagi Ada

Aku mengerti tentang luka yang tak sepenuhnya ku pahami bagaimana cara menyembuhkannya, aku mengerti tentang kecewa yang tak selamanya ku tau bagaimana caranya untuk kembali bahagia.
Aku memahami tentang kamu yang tak seutuhnya mampu jadi yang terbaik bagimu dengan semua kekurangan dan kesalahan yang aku punya dan yang ku buat.
Aku tak pernah impikan langkah sempurna bersamamu, yang selalu ada dalam anganku adalah aku bisa tumbuh dewasa bersamamu, mengajariku bagaimana untuk bersikap kala keadaanmu tak menentu.
Aku mempelajarimu dari diammu, dari kekakuanmu, dan dari caramu menjauh. Tak sepenuhnya aku mampu membaca apa yang tak terucap, karena aku dilahirkan untuk bisa berkomunikasi denganmu, bukan membaca pikiranmu.
Tentangmu bukan bicara luka, tapi bicara bagaimana aku bisa terus tumbuh jadi lelaki dewasa tanpa memaksakan kehendakku untuk bisa bersamamu saat ini.
Aku bukan tak pernah terluka, namun kali ini aku tak harapkan lagi luka itu ada. Aku bukan sosok yang mudah menyayangi lalu ingin bersama, tapi aku mudah terluka lalu diam bersama sedih.
Bagaimanapun langkahku kemarin bersamamu, bagaimanapun semua cerita bersamamu, apapun yang dijalani kemarin, adalah sebuah kenangan dalam tulisan.
Kita tak pernah bertatap muka untuk bicarakan ini, tapi aku tau pasti Tuhan mengerti bagaimana hati menolak untuk berdekatan.
Tuhan mengerti bagaimana untuk menjauhkan yang tak mungkin bersama.
Aku tak pernah usapkan apapun yang ada pada dirimu, termasuk airmata dan luka, aku hanya hadir untuk menyemangati, lalu kini tugasku sudah selesai. Aku hanya titipkan satu nama pada Tuhan, agar nama itu IA yang menjaga, karena aku tau penjagaanku tak akan lagi sampai kepadanya.
Bagaimanapun rindu itu ada, aku hanya ucapkan dalam do'a, tanpa harus ku katakan lagi apa yang sebenarnya aku rasakan.
Tuhan yang tau apa yang kamu butuh, hanya ada do'a untuk menguatkanmu, aku hanya ingin Tuhan bahagiakanmu dengan mewujudkan apapun yang kamu impikan.
Bagaimanapun langkah yang sendiri tidak akan benar benar baik jika terbiasa bersama, dan kini aku membiasakan diri untuk sendiri, karena aku tau kamu dihadirkan bukan untuk melukai, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menjadi pembelajaran bagiku tentang banyak karakter yang belum pernah aku temui.. aku tau aku kuat dengan caraku melalui jalan yang Tuhan tetapkan.

Bahagia untukmu selalu :')
Share:

Tuhan, Aku Lelah. . . . .


Tuhan, sekali saja, aku ingin dimengerti.
Aku tak tahu sudah seberapa banyak aku mengerti. Tapi kali ini: cukup, aku sudah benar-benar mengerti. Mungkin memang tak seberapa sering, tapi aku yakin aku lebih banyak mengerti. Aku selalu memaklumi. Tapi kumohon, Tuhan, kali ini biarkan aku yang dimengerti.
Karena aku sudah cukup lelah menghadapi hidup…
Menghadapi kenyataan bahwa aku tak luar biasa, bahwa hatiku ternyata sedang rapuh, bahwa aku sedang ingin banyak tersenyum, bahwa aku tak ingin lagi menangis. Sulit memang. Air mata itu seperti teman. Selalu ada dan tak ada habisnya. Tapi kuyakin bisa, karena biasanya selalu bisa.
Ini hanya kali ini, Tuhan. Aku ingin didengar. Aku ingin dimengerti. Aku sedang di ambang kerapuhanku.
Meski di sisi lain aku ingin tahu, sejauh mana aku bisa bertahan. Bahwa aku tegar. Bahwa aku mampu melewati semua yang ada pada masanya.
Dan, Tuhan… Aku tahu Kau dengar:
Tuhan, aku ingin pulang.
Share:

Aku hanya ingin menulis


Aku hanya ingin menulis tanpa tau apa yang ingin aku tuliskan. Aku hanya ingin menulis tanpa tau siapa yang akan menjadi subjek dari tulisanku. Aku hanya ingin menulis untuk meluapkan perasaan yang berkecamuk di hatiku. Perasaan yag bahkan samar-samar tak dapat jelas di deskripsikan.

Aku hanya ingin menulis untuk melegakan hatiku, membiarkan tangisku mengalir tanpa tau kenapa dan untuk apa aku menangis. Aku hanya ingin menulis agar aku dapat bercerita lewat tulisan. Menceritakan hal yang aku sendiri pun tidak tau apa yang harus aku ceritakan. Aku hanya ingin menulis.

Aku hanya ingin menulis agar kelabilanku ini perlahan menjadi stabil. Aku hanya ingin menulis meski takkan ada yang membaca tulisan-tulisanku ini nantinya. Aku hanya ingin menulis untuk berbagi dalam kesunyian dan diam. Aku hanya ingin menulis untuk menjemput senyum ketika aku membaca tulisanku ini kembali nantinya.

Aku hanya ingin menulis meski tulisanku tak akan sebagus tulisan seorang Kahlil Gibran. Aku hanya ingin menulis agar dunia tau ada seorang lelaki tidak tau diri yang terus mengikuti mimpinya meski entah kapan mimpinya akan berubah bentuk menjadi sebuah reality. Aku hanya ingin menulis agar pena dan kertas putih diciptakan tak menjadi sia-sia. Aku hanya ingin menulis agar kesepuluh jemariku tak hanya berfungsi untuk hal-hal yang terlalu biasa. Aku hanya ingin menulis.

Aku hanya ingin menulis meski terkadang pikiran sedang melayang-layang jauh tak bertujuan. Aku hanya ingin menulis meski hatiku pun sedang tidak karuan. Aku hanya ingin menulis agar setiap pandangan dan pendengaranku tak hanya tersimpan menjadi sebuah kebungkaman. Aku hanya ingin menulis meski tulisanku tak selamanya hal yang disukai oleh mereka yang membacanya. Aku hanya ingin menulis agar aku di kenal oleh dunia lewat sebuah karya tak hanya sebuah nama yang akan hilang bila telah terkubur di tanah. Aku hanya ingin menulis agar aku bisa bercerita pada dunia tentang semua yang terjadi dengan cara pandangku sendiri. Aku hanya ingin menulis.

Share:

Jawaban itu Terletak pada Air Mata

Ketika Tuhan mengirimkan aku ke tempat yang tidak pernah aku sangka, tidak pernah sekalipun terpikirkan, tidak pernah direncanakan; ada jeda beberapa pekan sampai aku menemukan jawabannya:
 

Pada air mata orang tua yang memeluk anaknya, pada air mata anak yang memeluk orang tuanya, pada air mata anak-anak yang tidak bisa memeluk orang tuanya.
 

Dan pada air mataku sendiri yang tidak mengalir.
Seperti sebuah lagu: menangislah bila harus menangis karena kita semua manusia.
Share: