Indonesia Dalam Peradaban Perut

"Rasa lapar mulai menyiksaku. Aku lemah, aku muntah beberapa kali. Suatu perasaan amat pusing menyambarku; aku berjalan terus dan tak mau memerhatikannya, tetapi perasaan itu makin lama makin kuat,” tulis Knut Hamsun, sastrawan Norwegia, dalam novel Hunger (Sult/Lapar), yang melambungkan namanya. Ia meraih Nobel Sastra 1920.

Hunger dianggap kritikus sastra dunia menawarkan cara pandang, penyajian bahasa, serta model penulisan yang detail dan khas. Tokoh novel ini, sang Aku, berusaha hidup sekuat tenaga, hingga menggadaikan seluruh barang yang dipunyai. Bahkan, menggadaikan selimut milik teman demi membeli makanan. Tokoh Aku, merupakan penulis yang sedang berproses menggapai kematangan.
Knut Hamsun kecil hidup dengan perut lapar dan bekerja membantu pamannya. Ia tak boleh pulang karena harus bekerja keras. Demi mengunjungi keluarga, Knut memotong salah satu jari kakinya agar pamannya iba. Jejak kepedihan terekam utuh di setiap episode hidupnya.
Lapar yang diderita tak hanya dirasa dengan perut kosong dan haus. Knut merasa terbenam lumpur pekat kemiskinan. ”Aku sendiri merasa bagaikan suatu serangga kecil yang sedang sekarat, di dalam cengkeraman kebinasaan dalam dunia yang sudah sesat ini,” ungkapnya.

Kritik pada modernisme
Dibaca dalam konteks kini, kisah Knut Hamsun menampar manusia modern yang hidup dan ambisinya melulu mengejar kebutuhan biologis. Sekadar urusan perut. Satu naluri purba yang membesar dan mendominasi, membentuk semacam adab yang tak hanya menenggelamkan masyarakat pada hasrat dan nafsu badaniah saja, tetapi juga —dalam kasus di negeri ini —menghadirkan elite yang sibuk dengan pragmatismenya.
Elite seperti itu tak sempat memikirkan hal lain—yang bersifat visioner atau holistik—kecuali sekadar proyek, politikus meng-”obyek”-kan dana negara, pengusaha lupa tanggung jawab sosialnya, akademisi rebutan kuasa, atau agamawan hanya silat lidah. Rakyat kebanyakan? Hanya untuk hiruk pikuk kebutuhan seputar perut: mengonsumsi semua hasil kebudayaan yang hanya memuaskan hasrat-hasrat purbanya yang badaniah.

Perut sebagai energi
Tanpa proses produksi seimbang, ekonomi kapitalistik hanya akan menghadirkan masyarakat konsumer. Jean Baudrillard (2005) menyebutnya masyarakat kapitalis mutakhir. Theodor Adorno menyebut sebagai ”masyarakat komoditas” (commodity society). Bagi negeri ini, dua terma itu tampaknya kontradiktif. Di satu pihak benar, kita tenggelam dalam hidup yang difalsifikasi ke dalam komoditas. Di lain pihak, kita sama sekali belum mencapai yang disebut Baudrillard sebagai the late capitalism.
Mungkin inilah ironi adab mutakhir kita. Sebagai masyarakat atau bangsa, kita menerima adab itu sebagai akibat. Namun, kita tak pernah mengetahui atau mengalaminya sebagai sebab.
Tak mengherankan bila masyarakat juga elitenya, seperti tak mengerti yang sedang terjadi, yang mereka lakukan sendiri. Ia kehilangan orientasi.
Itu terjadi dalam seluruh tingkat dan dimensi kehidupan. Pada pendalaman spiritual, misalnya, manusia Indonesia kesulitan memahami dan ”mengalami” agama sebagai jalan meneguhkan eksistensinya secara utuh. Ia berhenti pada slogan dan jargon skriptural. Makna substansial dari agama tersingkir di sudut-sudut perpustakaan, terpencil, teralienasi.
Perut, mungkin hanya simbol. Tak hanya untuk manusia, tetapi kehidupan itu sendiri. Walau posisinya desisif sebagai penggerak hidup atau kebudayaan, ia bisa menjadi ancaman bahkan bencana, ketika kita membiarkannya menjadi makhluk liar. Menjadi monster yang siap melahap (hidup) kita sendiri.
Share:

No Big Deal

Kamu tahu bagaimana rasanya?
Berusaha ratusan kali tapi tak pernah dipercaya.
Diminta melakukan semua tapi dianggap angin lalu saja.
Apa karena kesalahan itu?
ya karena kedekatan dengan semua orang itu?

apa kamu pernah berfikir sekali saja?
Saat engkau bertanya maka kujelaskan detailnya
alasan-alasan akan perbuatan itu
dan yang kuterima hanyalah hening dari mulutmu
jadi buat apa aku berkata segala hal itu? Cuma untuk ego mu kah semua itu?

ya.. aku tau aku bajingan
Orang tengik banyak lagak tak tahu diri
yah aku paham hal itu
engkau tanya kenapa aku tak pernah berusaha lebih?
Dan aku tertawa didalam hati
tertawa krn engkau sendiri yang tak pernah percaya akan usaha itu
jadi aku harus bagaimana lagi?

aku tau pula aku orang bodoh
tak pandai menjelaskan semuanya.
Mungkin itu pula kenapa engkau selalu membisu tak berbicara
diam dengan semua yang ada

tak bisa memilih yah?
tak pernah serius yah?
Slalu menganggap semuanya sama yah?

So be it dear..
lelah sekarang aku berusaha untuk orang-orang sepertimu
lelah pula aku berusaha meyakinkanmu
kalau memang karena latar belakang itu aku tak berhak untuk kata-katamu tak apa
no big deal..
mungkin untuk sekali saja aku harus benar-benar menjadi orang "jahat"
seperti yang kau tuduhkan padaku
melalui sikapmu
melalui bisumu
mungkin itu yang kau mau..tak tahulah aku..

melelahkan..
sungguh-sungguh melelahkan untuk bertahan..
Share:

Believe Me

Setidaknya saat ini aku sudah yakin
Untuk mengutarakannya padamu
Tentang apa arti “rasa”
Yang mulai kugali kembali dengan penuh harap
Saat kau utarakan rasamu itu padaku

Jujur kukatakan
Dulu aku pernah merasakan sakit, hingga aku menjadi kelu
Tidakkah terlalu berlebihan
Bila aku memintamu datang dan membilaskannya untukku
Agar jantungku dapat berdegup kembali saat aku beranikan menggenggam tanganmu

Aku bukan seseorang yang sempurna
Namun aku ingin sempurna untukmu
Dan menjadi luar biasa karenamu

Kata-kata ini tidak mungkin dapat kau rasakan
Jika masih ada ragu dihatimu
Katakan ragumu, aku akan yakinkan itu
Jika masih ada tanya dibenakmu
Tanyakan padaku aku akan jujur menjawabnya
Dan terimalah apa adanya

Karena aku sudah memantapkan diri ini
Untuk memulai nuansa baru bersamamu
Menghadapi warna warni hidup ini
Berbijak dalam setiap langkah bersamamu

Lalu kucoba meraba dan bertanya dalam hati
Pantaskah aku ucapkan janji jika kau tak disisi?
Mampukah kau berjanji padaku, bahwa kita BAHAGIA bila kita bersatu?
Katakan padaku saat ini atau tidak sama sekali..
Karena aku akan menghilang dari jiwamu
Jika semua untaian hati ini tak berarti bagimu..
Share:

Mau Pintar Kok Mahal

Pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia memandang adanya perbedaan kelas dalam hal biaya pendidikan. Lembaga pendidikannya pun dibeda-bedakan sesuai dengan kualitas yang berpengaruh kepada biaya pendidikannya dalam semua jenjang pendidikan. Masalah yang menyangkut biaya pendidikan di Indonesia dalam berbagai jenjang adalah pendidikan yang berkualitas berarti mahal biaya pendidikannya. Masalah ini menyebabkan masyarakat yang dirasa tidak mampu tidak dapat mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan yang berkualitas sehingga masyarakat kurang mampu hanya dapat mengenyam pendidikan yang kurang berkualitas di lembaga pendidikan biasa. Seharusnya pendidikan yang berkualitas di Indonesia itu berlaku untuk seluruh warga negara tanpa terkecuali bukan hanya golongan-golongan atas saja. Padahal Pendidikan di Indonesia merupakan Hak asasi yang harus dipenuhi dari lembaga atau institusi yang menyelenggarakan pendidikan yang diberikan secara merata. Mengingat pentingnya pendidikan untuk semua warga, sehingga posisinya sebagai salahsatu bidang yang mendapat perhatian serius dalam konstitusi Negara kita, dan menjadi salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu Negara dalam hal ini pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan secara murah dan bahkan gratis untuk masyarakatnya. Banyak faktor penyebab mahalnya biaya pendidikan akibat kebijakan lembaga pendidikan ataupun pemerintah yang harus ditangani agar terjadinya pemerataan pendidikan di Indonesia. Dampaknyapun sangat serius bagi kualitas SDM di Indonesia sehingga harus adanya kebijakan atau tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah biaya pendidikan yang tidak merata ini.

Penerapan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada yaitu upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS ditandai dengan adanya unsur pengusaha. Dalam hal ini pengusaha memiliki modal yang lebih luas dan besar. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, pengusaha mengontrol sekolah dengan melakukan segala pungutan uang selalu berkedok, atsa nama sesuai keputusan Komite Sekolah. Namun, pada implementasinya ia tidak transparan karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Munculnya sekolah unggulan, sekolah plus, Sekolah Standar Nasional (SSN) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sekolah dapat leluasa meminta sumbangan ke wali murid berkedok untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun SBI akhirnya dihapus berkat keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pada pensatusan sekolah ini terjadi diskriminasi antar sekolah dimana murid yang berasal dari sekolah inilah yang mudah diterima di perguruan tinggi negeri dan sekolah-sekolah yang standar sangatlah susah menembus perguruan tinggi negri. Wajar saja karena sekolah yang mempunyai status unggulan mengenakan biaya pendidikan yang setimpal dengan kualitasnya dan banyak dihuni oleh orang yang punya uang saja. Di sisi lain orang yang tidak mampu tersisihkan dalam hal pendidikan di lembaga berkualitas, padahal banyak dari mereka mungkin memeiliki potensi yang besar dalam pendidikan.

Adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Lembaga atau Institusi yang bertanggung jawab pada masalah biaya pendidikan adalah pemerintah, masyarakat atau pihak yang menyelenggarakan pendidikan itu sendiri. Dalam UUD 1945 pasal 36 jelas disebutkan tentang masalah tersebut. Pada ayat 1 disebutkan biaya penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi tanggungjawab pemerintah. pada ayat 2 disebutkan biaya penyelenggaraan kegiatan pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi tanggungjawab badan/perorangan yang meyelenggarakan satuan pendidikan. Kemudian pada ayat 3 disebutkan bahwa pemerintah dapat memberi bantuan kepada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam uraian diatas bukan berarti biaya pendidikan dibebaskan dan di tanggung semuanya oleh pemerintah, tetapi untuk yang ingin mengenyam pendidikan tetapi juga harus disertai dengan tanggung jawab dari pihak masyarakat dalam hal ini khususnya keluarga yang berkewajiban membayar biaya pendidikan. Namun, karena adanya wajib belajar di Indonesia sampai sekolah menengan Pertama (SMP) maka pemerintah seharusnya bertanggung jawab penuh dalam menangani biaya pendidikan sampai beres wajib belajar itu dengan biaya gratis. Wajib belajara diselenggarakan sesuai dengan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 bahwa ketentuan wajib belajar di negara kita sampai pada sekolah menengah tingkat pertama.

Sebenarnya yang faktor dapat menjamin masa depan adalah pendidikan yang berkualitas. Seharusnya pendidikan berkualitas di negara indonesia diselenggarakan di semua lembaga pendidikan tanpa terkecuali dan berlaku untuk seluruh warga negara. Sejatinya seluruh warga negara mempunyai hak atas pendidikan yang berkualitas, tetapi kenyataannya hanya golongan tertentu sajalah yang dapat menikmati pendidikan berkualitas tersebut sehingga banyak orang yang kurang mampu hanya bisa menikmati pendidikan yang biasa saja. Hal tersebut tentunya sangat berdampak terhadap kualitas SDM di Indonesia, sekarang saja SDM Indonesia tidak merata atau tidak adanya keseimbangan antara yang memiliki kualitas skill tinggi dan yang sebaliknya. Dengan hal tersebut output dari dunia pendidikan untuk bangsa Indonesia masih sedikit untuk yang benar-benar berkualitas. Seharusnya jika semua warga negara yang masih dalam tahap mengenyam pendidikan diberikan pendidikan berkualitas juga. Lama kelamaan bangsa Indonesia akan terpuruk jika hal ini terus terjadi jika dibandingkan dengan negara tetangga saja Indonesia masih kalah dalam hal output pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut jelas di sebabkan karena adanya kualitas pendidikan yang belum memadai karena biaya pendidikan yang mahal juga.
Share:

Butuh Waktu Seumur Hidup Untuk Memahami kata Cowok Brengsek


Gue awali dari yang paling mainstream atau yang paling sering dibahas orang-orang di sosmed. Kita semua pasti sudah hapal dengan contoh kalimat, “Kalau sudah gagal jadi ganteng, maka jadilah cowok yang lucu.” Atau, “Kalau sudah gagal jadi cowok mapan, jadilah cowok yang lucu.” Tapi buat gue, cowok lucu itu levelnya sudah di atas cowok ganteng dan mapan :D

Cowok dengan keuangan mapan dan dengan muka yang tampan, sudah jelas diinginkan setiap cewek dan sudah sangat jelas dapat datang dan pergi sesuka hati di kehidupan cewek. Bahkan, 6 dari 10 cewek sudah tahu kalau cowok tipe ini bisa datang dan pergi sesukanya, tapi 6 cewek ini ya juga tetep mau dipacari terlepas dari konsekuensinya. Cowok tampan dan mapan 99% tidak punya kesulitan untuk pedekate dan melakukan finishing. Tapi bagaimana cowok dengan muka pas-pasan namun lucu, kayak gue? ;)

Dengan kemampuan membuat tertawa, cewek-cewek bisa lupa kalau cowok yang buat dia ketawa ini nggak ganteng, belum mapan, atau pun nggak romantis. Kasian banget ya. :D Gue sendiri punya pengalaman menarik dari cerita temen gue yang punya pacar cuma karena bermodal lucu. gini cerita dari temen gue itu "Di akhir kencan, sewaktu pulang, bilang gini sambil menembem-nembemkan pipinya tepat di depan mata temen gue, "Kamu itu biasa aja Donk, tapi kok aku seneng banget ya di deket kamu, jadi pengin ngobrol terus. Hehe." Bahkan di kencan kedua, ceweknya yang bayarin semuanya, dari makan, sampai parkiran. :D Bahkan dia sempat mau bayarin uang SPP kuliah temen gue itu, namun dengan cepat temen gue tolak." Ini sudah dapat disebut kejadian luar biasa dan sangat anomali. Mungkin dari 100 cewek, hanya ada 0,25 cewek yang mau bayarin kencan. =D

Lalu, gue juga melihat bahwa menjadi cowok lucu adalah hal paling romantis yang dapat dilakukan secara sederhana oleh seorang cowok di hidup ini. Bahkan hampir effortless. Sangat menyenangkan ketika melihat cewek tersenyum, tertawa, sambil melintir-lintir rambutnya, atau menembem-nembemkan pipinya. Semua cowok lucu itu basic-nya romantis. Kalau dia ngelucu, itu juga tujuan bikin kamu senyum, proses kenapa kamu bisa senyum, itulah romantis :*
Brengsek abis..

Buat gue, cowok lucu dan cowok cool adalah api dan air. Ketika cowok lucu adalah simbol kehangatan, keceriaan, maka cowok cool adalah kebalikannya. Ya, simbol kemisteriusan dan penasaran. Sampai sekarang gue nggak bisa lupa adegan Rangga nyambit pensil dengan cool ke Cinta. Dian Sastro disambit pensil dan akhirnya jatuh cinta! Kalau gue yang melakukan hal cool tersebut, pasti ending-nya gue dikutuk jadi bohlam kandang. Redup-redup gimana gitu :D

Kalau cowok lucu identik dengan ketidak gantengan, maka cowok cool ini erat kaitannya dengan ketampanan. Jadi, kalau kamu sudah tidak masuk kualifikasi cowok ganteng, jangan sekali-sekali bersikap cool ke cewek. Bayangin kalau Budi Anduk ditanya cewek, “Budii, apa sih definisi cinta menurut kamu?” Lalu Budi menjawab, “Berak.”

Budi Anduk pasti udah dikutuk jadi gayung martabak.

Tapi kalau Nicholas Saputra yang jawab gitu, toh cewek-cewek tetep ngantre buat disambit pensil.
Gue pernah coba sekali menjadi cowok yang cool. Yang cara ngomongnya sangat tertata, sesuai EYD, pelan, suaranya berat, dan menusuk kalbu. Waktu itu temen cewek gue nanya, “Kita mau ke mana, Kaa?” Terus gue jawab dengan pelan, berwibawa, suara bindeng kayak orang flu gimana gitu,

“Sebal sekali dihujani pertanyaan ‘kita mau kemana’ olehmu. Barangkali kau tak tahu, setiap bertemu denganmu, aku sudah sampai pada tujuan :D”

Dia terdiam.

“Jawaban apa yang ingin kau dengar dari seseorang yang sudah sampai tujuan? Kau ingin aku pergi ke mana lagi ketika kau adalah tujuan akhirku?” Gue kembali menambahkan.

Brengsek abis Guee :D

Ngomong-ngomong soal baper atau dibawa perasaan, gue termasuk cowok yang suka baper untuk hal-hal yang mungkin orang lain tidak akan baperin di hidup ini. Salah satu hal yang palin gue baperin di hidup ini adalah, saat kelingking kaki gue kepentok kaki meja. Sakitnya bener-bener membuat air mata berlinangan. Sakitnya bener-bener melibatkan perasaan. Sakitnya bener-bener membuat gue merenungi makna di hidup ini.. Kenapa ada sang hitam bila putih diciptakan? Kenapa bisa merasa kehilangan sebelum sempat memiliki? Kenapa harus belajar dari pertemuan tentang bagaimana indahnya mengawali sebuah perpisahan? Dan kenapa kaki meja ingin sekali mentokin dirinya ke kelingking gue? Kenapaa.. Kenapaaaa :'(

Langit tetap tidak mendengar..

Mungkin apa yang gue rasakan ketika kelingking kaki gue kepentok meja, itu sama seperti hati yang berdebar-debar saat kita hendak menggenggam tangan satu sama lain, dan hancur berantakan setelah tangan si dia nolak. :'( Gue sering banget ngeliat cowok yang air matanya jatuh sesaat setelah tertolak oleh cewek yang di sayanginya. Persis seperti air mata gue yang jatuh sesaat setelah kaki meja mencium kelingking gue.

Ketika cewek bisa tersenyum, tertawa, bersedih, dan menangis di sekali kesempatan, sudah tentu si cowok ini brengsek sekali. Dan ketika membuat baper cowok yang sampai menitikkan air mata ketika tertolak,

Gila. . . .
Brengsek abis..

Gue ngerti perasaan orang yang main dota ketika darah lawannya tinggal sekali garuk, namun ketika mau digaruk atau di-ulti, lawannya tiba-tiba ngilang  dan dia nggak punya gem atau apapun yang bisa ngeliat hero yang ngilang. Gue paham, orang yang gagal nge-kill ini pasti merasa kehilangan. Ditinggal pas lagi di saat genting, ditinggal pas lagi semangat-semangatnya ngejar, duuuuuh.

Gue ngerti perasaan mahasiswa yang di saat lagi butuh bimbingan dari dosbing, lalu tiba-tiba dosennya ngilang. Gue ngerti perasaan mahasiswa yang mau ngejar revisi buat cepet disidang, tiba-tiba dosennya ngilang, katanya ada seminar di luar negeri. Gue juga ngerti perasaan mahasiswa yang butuh pendamping wisuda, namun di saat wisuda, pacarnya malah ngilang. Ternyata nemenin wisuda orang lain :D
Gue juga ngerti perasaan orang yang lagi deket-deketnya, yang lagi romantis-romantisnya di-chat, tiba-tiba besoknya dia ngilang tanpa kabar. Rasa kehilangannya persis kayak kehilangan flesdisk yang isinya kopian film korea, sadis . . .
Rasa kehilangan yang prematur. Sudah merasa kehilangan sebelum sempat memiliki adalah brengsek yang paripurna.

Kalau sudah berhasil jadi cowok lucu, cowok cool, atau cowok yang suka menggandeng tangan, cobalah jadi cowok yang suka ngilang. Sebab hidup ini adalah perjalanan dari kehilangan satu ke kehilangan lainnya. Sebab tiada tempat berteduh dari segala yang  pergi dan dari setiap yang hilang, Gilaaa. . . . Brengsek banget Gue.

“Perjuanganmu lebih mudah, kau hanya kehilangan aku. Perjuanganku lebih sulit, aku kehilangan dirimu, dan diriku yang telah kuberikan pada tubuhmu.”
Nggak ada obat,
Brengsek abis..


Dan ini yang terakhir menurut gue, ini adalah brengsek yang paling ultimate. Tingkat bapernya bahkan melebihi baper ketika kaget saat diklakson tronton. Brengsek yang sejati lahir dari sini :D

Sudah pernahkan kalian sampai di fase dua tubuh yang sudah satu, namun tetap tidak bisa disatukan oleh ikatan resmi? Rasanya itu seperti sudah disakiti karena kelingking kepentok meja, namun tidak bisa membalas menendang meja.

Sudah pernahkah kalian sampai pada fase ditanya oleh kekasih, “Kamu pindah Fakultas yaa..” Namun dalam hati kalian menjawab tidak bisa. Itu rasanya sama kayak ketika naik motor di jalan, terus tiba-tiba dari belakang diklakson sama tronton. Rasa kagetnya itu benar-benar melibatkan perasaan. Bahkan saking kagetnya, bukan mulut yang menjerit, namun hati. Mau membalas nglakson, bunyinya cuma “Teeet”. Sebuah bunyi yang terdengar cemen sekali di tengah belantara jalanan ibukota. Mau menjawab pertanyaan, “kamu pindah Fakultas yaa..:” dengan iya, tapi hati berkata lain. Orang tua juga berkata lain.
Berat sekali beban di hidup ini :|

Gue sudah cukup banyak melihat cewek-cewek yang hancur karena gagal bersatu dengan cowoknya akibat dipisah jarak yang sangat jauh dan tidak bisa diukur seberapa jauhnya. Ya, jarak tak kasat mata yang terbentang di antara kita, sebuah perbedaan.

Kalau kamu sudah berhasil jadi cowok yang lucu, cool, suka menggandeng tangan, dan ngilang-ngilangan, cobalah jadi cowok yang beda. Dan lihatlah air mata perempuan yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya, sebuah air mata yang dipenuhi oleh baper karena gagal bersatu.

Parah,
Brengsek abis Gue..

=======

Apakah kamu dapat menyimpulkan bahwa tulisan gue di atas bisa disebut panduan? Apakah mencerahkan?
Nggak, kan?
Benar sekali. Tidak ada satupun panduan untuk menjadi cowok brengsek. Sebab kita sudah terlahir sebagai cowok yang brengsek.
Brengsek by default.
Setiap hal yang cowok lakukan dan berakhir tidak sesuai dengan keinginan cewek, di sanalah kata brengsek lahir.

Hidup cowok brengsek!
Share: